Tradisi Carotai – Jaga Kebersamaan Masyarakat Minangkabau

Carotai adalah tradisi masyarakat Minangkabau untuk menangkap ikan yang dilakukan masyarakat secara beramai-ramai atau yang biasa disebut . Tradisi turun-temurun ini sudah ada sejak zaman nenek moyang Minangkabau dahulu kala.

Banyak hal positif yang bisa diambil dari kegiatan carotai ini. Carotai merupakan tradisi Minangkabau yang dapat me­nimbulkan dan menjaga rasa kebersamaan dan keakraban sesama masyarakat. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini sudah mulai pudar di tengah masyarakat Minang­ka­bau.

carotai - tradisi kebersamaan masyarakat dalam menangkap ikan

carotai – tradisi kebersamaan masyarakat dalam menangkap ikan (sumber: padang today)

Pagi itu, sekita pukul 07.00 WIB, cuaca dingin yang disertai gerimis tidak menyurutkan niat warga Jorong Andaleh Nagari Cingkariang Kecamatan Banu­hampu, Agam beramai-ramai mendatangi kolam atau tabek untuk mengikuti dan me­nyak­sikan carotai. Kolam masjid de­ngan ukuran sekitar 1,5 hektare tersebut berisikan sekitar kurang lebih 1 ton ikan jenis nila.

Terlihat kegembiraan dan keakraban masyarakat Andaleh. Dengan berlumuran lumpur, peserta carotai sangat ceria dan menikmati menangkap ikan dengan hanya menggunakan tangan. Tua muda, laki-laki perempuan berbaur dengan suka cita dan kegembiraan.

“Tradisi ini sudah lama dan turun-temurun dari nenek mo­yang kami. Selain untuk pem­bangunan mushala, kami juga menggelar carotai yang diikuti oleh masyarakat,” kata Anton Tasman, 61, ketua Mushala Nurul Huda Jorong Andaleh, kemarin.

Sedikitnya, 3000 bibit ikan ditebar setiap tiga tahun sekali. Saat panen, ikan yang di dapat bisa mencapai 1 ton. Tidak hanya dijual, ikan hasil panen tersebut juga dibagikan kepada masya­rakat Jorong Andaleh.

“Sebelum kegiatan carotai, ikan yang besar dijual dulu untuk pembangunan mushala dan dibagikan kepada masyarakat 1 kg tiap rumah. Sisanya sekitar 350 kg dibiarkan tetap di kolam untuk kegiatan carotai. Setiap peserta biasanya bisa men­da­patkan 10 kg ikan,” katanya.

Bupati Agam, Indra Catri menyebut, tradisi ini harus dipertahankan di Agam. Selain berkontribusi untuk pem­ba­ngunan nagari, Carotai juga sebagai wadah untuk me­ning­katkan rasa sosial dan men­dorong terjadinya interaksi di tengah masyarakat. “Kegiatan ini sangat banyak dampaknya bagi masyarakat seperti untuk pembangunan, mendorong terjadinya keber­samaan dan rasa berbagi antara satu dengan yang lainnya. Ini adalah warisan yang harus kita jaga dan kita pertahankan,” kata Indra Catri.

Pemerintah Kabupaten Agam berkomitmen untuk terus melestarikan dan me­ngem­bangkan tradisi tersebut. Selama ini, pengelolaan kolam hanya secara tradisional. Untuk itu, kedepannya akan diperbaiki kolam dan cara pengelolaannya. Dari tradisi itu nantinya akan terus dikembangkan untuk me­nunjang pembangunan nagari.

“Dengan luas 1,5 hektare sangat disayangkan karena pa­nen dilakukan sekali tiga tahun dan mendapatkan hasil panen 1 ton. Kita akan perbaiki kolam dengan mengeruk kembali. Ke­mudian kita berikan bibit ung­gul, target kita dengan bibit ung­gul bisa panen sekali se­tahun. Artinya tradisi ini akan se­makin sering dilakukan,” ujarnya.

Dari 25 ribu kolam yang ada di Agam, baru 10 ribu kolam yang aktif. Program Agam me­nyemai akan mendorong agar semua kolam di Agam diak­tifkan. Pasalnya, kolam sangat bermanfaat bagi masyarakat. Dia juga mengimbau masya­rakat Agam untuk selalu men­jaga dan memelihara kolam, baik itu kolam masjid ataupun kolam masyarakat.

“Dengan begitu kolam-ko­lam di Agam akan hidup dan kita memiliki cadangan air. Kolam juga tempat bermain anak-anak, yang terpenting kolam juga bisa menyelamatkan masyarakat. Misalnya saat keba­karan, di waktu mobil pemadam tidak bisa masuk ke lokasi, ma­sya­rakat bisa menggunakan air kolam untuk memadamkan api, seperti yang pernah terjadi di Ampanggadang Kecamatan Ampek­­angkek dan Labung Ke­camatan Candung,” jelasnya.

(sumber: padangekspres)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan