Tingkatkan Kesejahteraan Petani Ikan Tawar – UPP Balikpapan Produksi Pakan Murah

Pakan yang menjadi komponen penting bagi petani ikan air tawar belakangan ini semakin mahal dan menjadi beban bagi petani ikan air tawar. Pasalnya, 70 persen dari total kebutuhan yang wajib disiapkan untuk memulai usaha budidaya adalah pakan itu sendiri. Sisanya barulah lahan, bibit dan vitamin.

Wajar, jika belakangan ini banyak petani yang berpikir ulang untuk melanjutkan usaha budidaya ikan tawar. Hal ini tentu disebabkan karena tingginya tingkat kebutuhan pakan yang mana juga diikuti kenaikan harga pakan yang melonjak cukup tinggi di setiap tahunnya.

Namun, kekhawatiran itu kini akan teratasi karena pendamping kelompok budidaya ikan, Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) berhasil memproduksi pakan yang diklaim berprotein tinggi, diolah dari limbah.

“Ini alternatif bagi anggota UPP yang saat ini sedang terbebani tingginya harga pakan,” tutur ketua UPP, Zakaria didampingi rekannya, Franky dan Kun Aryanto di kawasan Teritip, belum lama ini.

Zakaria menyebutkan, harga pakan saat ini mencapai Rp 16 ribu per kg. Itu untuk jenis ikan usia pemula. Tahun 2012 lalu, kata dia, harganya berkisar Rp 12 ribu per kg. Artinya, masing-masing petani menghabiskan Rp 384 ribu per hari dengan asumsi 60 kg pakan untuk 24 ribu ekor ikan sampai ikan usia dua bulanan barulah pakan berganti.

Di pasaran, pakan ikan untuk usia dua bulanan seharga Rp 13 ribu per Kg. Sementara masa panen baru dicapai setelah tiga bulan usai bibit disemai.

Zakaria menjelaskan, UPP sendiri membawahi 30 kelompok tani yang tersebar di seluruh kota dengan volume ikan masing-masing 2 ribu hingga 50 ribu ekor ikan. Satu kelompok berisi 10 orang petani. Adapun jenis ikan yang dibudidayakan meliputi ikan lele, nila dan patin.

Nantinya, lanjut Zakaria, pakan yang diproduksi UPP dibandrol Rp 7 ribu per Kg. Meski kemampuan produksi hanya untuk ikan usia dua bulan, namun pihaknya menegaskan, kesejahteraan petani akan meningkat. “Setidaknya ongkos produksi petani bisa lebih murah dari biasanya,” celetuk Zakaria lagi.

Produksi pakan oleh pendamping kelompok petani ikan tawar ini didukung dua paket mesin bantuan Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kota. Yakni, terdiri dari mesin bubuk, mesin pencampur, mesin pelet dan mesin pengering. Satu paket ditempatkan di kawasan Teritip dan satu paket lagi ditempatkan di kawasan Balikpapan Utara.

Lebih jauh Zakaria menambahkan, pakan ikan ini disebut berprotein tinggi lantaran pakan diproduksi dengan kombinasi jagung, dedak, mineral, tepung ikan dan bungkil kedelai. Bahan baku pakan tersebut dianggap terbaik untuk ikan tawar sesuai hasil uji.

“Bahan baku relatif mudah didapat kecuali bungkil kedelai karena disini enggak ada petani kedelai,” beber ayah tiga orang anak ini.

Hebatnya lagi, kadar protein bisa ditingkatkan sesuai keinginan petani. “Kalau pakan pabrikan (kadar) proteinnya cuma 30 persen, di sini kami bisa tingkatkan sampai 70 persen. Lebih tinggi lebih bagus buat ikan,” timpal Franky yang mengaku tengah membudidaya 9 ribu ekor ikan lele.

Menurut Franky, sumber protein sendiri didapat dari ikan. “Ikannya juga tidak harus yang segar. Jadi untuk pedagang ikan di pasar, dari pada ikannya enggak laku lebih baik dijual di sini,” seru Franky lagi.

Namun sayangnya, pakan produksi UPP belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh petani. Itu lantaran kemampuan produksi mesin maksimal 200 kg per hari. “Untuk tahap awal memang baru 20 persen, makanya untuk sementara kami prioritaskan anggota,” tutupnya.

(sumber: balikpapanpos)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan