Budidaya Ikan Patin Cukup Menjanjikan untuk usaha sampingan

Apr 07, 2018
Budidaya Ikan Patin Cukup Menjanjikan untuk usaha sampingan

IMG-20180406-WA0078-1170x658

SERANG, INFODESAKU – Budidaya ikan Patin ternyata sangat menjanjikan, bagi siapapun yang ingin terjun ke bidang usaha perikanan. Membudidayakan ikan patin bisa dijadikan mata pencaharian yang serius maupun untuk usaha sampingan yang potensial.

Seperti yang dikatakan Khutbi Kepala Desa Umbul Tanjung kepada infodesaku usai memanen ikan patin miliknya, masyarakat dapat memanfaatkan lahan kosong untuk dijadikan kolam ikan, pemeliharaannya pun cukup mudah, ikan patin merupakan salah satu ikan yang dapat hidup di air yang tenang.

“Budidaya ikan patin yang dilakukan tahun ini sebanyak 15 kolam lahan tanah sawah dengan luas rata-rata 100 meter persegi. Ada ikan patin, ikan bawal, ikan gurame, dan ikan nila nirwana,” ujarnya.

Lanjut ia menjelasakan, ikan patin maupun ikan bawal dan gurame tidak harus memerlukan banyak pakan komersil. Ikan tersebut cukup dikasih pakan alami seperti daun daunan, daun talas, pepaya, singkong kulit tangkil dan sampah sayuran, dan sisa makanan dapur pun bisa dijadikan untuk pakan ikan tersebut.

“Ikan patin yang dipanen ini hanya memerlukan waktu 3 sampai 5 bulan, ketika menabur benih pada waktu itu se ukuran jari tangan sebanyak 5000 ekor dengan harga benih 500 rupiah per ekor. Meskipun dari hasil panen belum memuaskan keuntungannya, kami merasa senang dan akan terus belajar bagaimana supaya budidaya ikan air tawar ini bisa menjadikan usaha bagi masyarakat sekitar, kalau dihitung dari 5000 ekor itu panen bisa mencapai 700 kilogram dengan rata-rata 7 ekor perkilogram,” paparnya.

BUDIDAYA PERIKANAN’ bungkil kelapa sawit sebagi pakan alternatif penganti tepung ikan

Mar 26, 2018
BUDIDAYA PERIKANAN' bungkil kelapa sawit sebagi pakan alternatif penganti tepung ikan

images (8)

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pakan Mandiri mengusulkan agar pabrik pengolah sawit mengalokasikan 10% produksi bungkil kelapa sawit untuk bahan baku pakan ikan mandiri sehingga mengurangi ketergantungan pada tepung ikan.

Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional Syafruddin mengatakan penggunaan bungkil sawit atau palm kernel meal (PKM) sudah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein nabati pakan mandiri, meskipun belum massif. Menurut dia, protein nabati yang terkandung dalam PKM berkisar 8%-10%. PKM juga mengandung lemak hingga 10% sehingga diharapkan dapat meningkatkan performa pertumbuhan ikan.

“Kami berharap pemerintah bisa mengeluarkan semacam aturan kepada seluruh perusahaan pengolah sawit, baik BUMN, BUMD, maupun swasta, untuk mengalokasikan 10% produksi PKM bagi kebutuhan bahan baku pakan ikan di Riau,” kata Syafruddin saat dihubungi, Minggu (25/3/2018). Dia memberi contoh, di Kampar, Riau, terdapat 300 pelaku usaha pakan mandiri yang membutuhkan bungkil sawit setidaknya 33 ton. Sejauh ini, pasokan diperoleh dari PT Rama-Rama (Sinar Mas Group).

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan bungkil yang telah difermentasi dapat mengurangi kebutuhan protein dari tepung ikan sehingga biaya pembuatan pakan menjadi lebih murah.

Sayangnya, meskipun produksi bungkil sawit di dalam negeri melimpah, 94% di antaranya diekspor. Dengan demikian, peluang untuk memanfaatkan PKM sebagai bahan baku pakan ikan cukup besar.

Dia berharap kepala daerah yang wilayahnya menjadi sentra pengolahan sawit memfasilitasi kerja sama antara pabrik kelapa sawit (PKS) dengan koperasi pakan mandiri dalam hal pemanfaatan PKM, misalnya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Empat Sungai Besar di Riau akan di jadikan sentra Budidaya dan Industri Perikanan Darat

Mar 23, 2018
Empat Sungai Besar di Riau akan di jadikan sentra Budidaya dan Industri Perikanan Darat

 42979124793-airtiris4

AIR TIRIS (RIAUSKY.COM)– Pasangan calon Gubernur Riau Dr Firdaus ST,MT-Rusli Effendi punya program besar untuk wilayah perairan di Provinsi Riau.

Berbekal empat aliran sungai besar yakni Sungai Kampar, Siak, Indragiri dan Rokan, pihaknya akan menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu program unggulan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Dr Firdaus ST MT saat melakukan kampanye dialogis yang dilaksanakan di Kelurahan Air Tiris, Kabupaten Kampar, Rabu (21/3/2018) petang lalu.

Disebutkan Firdaus, empat sungai besar itu potensial untuk dikembangkan. Karena itulah, pihaknya berencana memanfaatkannya untuk peningkatan budidaya sektor perikanan darat  unggulan.

Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas usaha, pemerintah, bila dia terpilih kelak akan menghadirkan investor maupun langsung melibatkan masyarakat untuk membangun industri pengolahan ikan padat usaha.

”Sebenarnya, sebut Firdaus, potensi perikanan sungai di Riau besar. Dan itu sudah pernah dirintis dengan mendatangkan salah satu investor. Namun, memang tidak maksimal karena masih ada beberapa kendala dalam investasi. Mudah-mudahan, bila kita dipercaya, diberi amanah, industri perikanan ini akan ditingkatkan dengan menghadirkan industri yang siap menampung produksi hasil budidaya masyarakat tempat. Tak hanya di Air Tiris ini, tapi di empat sungai besar di Riau,” ungkap Firdaus.

Firdaus juga memuji program budidaya perikanan yang dilaksanakan generasi muda di Air Tiris melalui sebuah koperasi. ”Ini bukan sekedar membanggakan. Tapi juga perlu diberikan dorongan untuk menjadi besar. Ini dikelola oleh anak-anak muda bermental enterpreneur. Pasti butuh dukungan kebijakan dan kemudahan modal. Insya Allah, kita akan dukung,” janji Firdaus.

Dia juga optimis, bila program ini bisa dilaksanakan akan membuka peluang kemajuan ekonomi, karena akan banyak peluang dan lapangan kerja yang bisa dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Untuk itulah, Firdaus berharap dukungan dari masyarakat setempat untuk bisa melaksanakan program tersebut.

Dalam kampanye dialogis yang dilaksanakan di Air Tiris ini, warga terlihat tumpah ruah memenuhi lokasi acara. Ratusan warga menyambut kedatangan rombongan Firdaus dengan panuh rasa bangga.

”Pak..pak..kami dukung apak… Insha Allah Pak… bangun kampuong awak ko yo pak…” ungkap salah seorang ibu saat menghampiri Firdaus untuk bersalaman.

Warga terlihat sangat bangga dan bahagia ketika Firdaus hadir dan memberikan orasi di hadapan warga. Mereka tak lepas bukan saja ingin berfoto, juga mendoakan kebaikan dan kemenangan untuk pasangan nomor urut 3, Firdaus- Rusli Effendi.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan  Ketua RT03 RW07, Marjonis, dimana  Air Tiris akan menjadi bukti dari bentuk dukungan masyarakat kepada pasangan Firdaus- Rusli Effendi. ”Kami tak mau mendahului kehendak Allah, tapi kami akan berusaha memenangkan Pak Firdaus-Rusli untuk membuat perubahan dan kemajuan bagi Riau,” ungkap Marjonis. (r)

Fuad Amarullah DPRD Mesuji ajak masyarakat manfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya ikan

Mar 22, 2018
Fuad Amarullah DPRD Mesuji ajak masyarakat manfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya ikan

Screenshot_2018-03-22-00-38-49-402_com.android.chrome


Kupastuntas.co – ketua DPRD Mesuji, Fuad Amarullah kunjungi kelompok masyarakat budidaya aneka ikan Desa Tri Karya Mulya, kecamatan Tanjung Raya Mesuji Lampung Rabu 21 Maret 2018.

Fuad menceritakan masyarakat Desa trikarya Mulya mengolah tanah pekarangan rumah menjadi tempat budidaya ikan berupa ikan lele patin gurame Nila bawal graskap bahkan ikan hias” desa trikarya Mulya punya Potensi perikanan

Selain pekarangan, lanjut Fuad”masyarakat juga melakukan eksperimen dengan memanfaatkan kolam karet untuk budidaya ikan lele, demi berinovasi mereka nekat walaupun harus uji laboratorium dahulu Apakah ikan yang dibesarkan di kolam karet bisa dikonsumsi atau tidak.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah semangat mereka untuk memanfaatkan lahan sekitar rumah adalah suatu hal yang menarik. Kekompakan mereka mesti kita support (dukung red) seru ketua DPRD Mesuji Partai Nasdem inibudidaya ikan gurame di kolam semen

Dari laporan masyarakat, kata Fuad” bahwa sudah ada bantuan dari Disnakertrans Mesuji namun masyarakat masih memerlukan pembinaan lebih lanjut. Dia berharap dinas terkait dapat lebih fokus lagi untuk melakukan pembinaan dan pelatihan pelatihan, seperti pemijahan dan pemasaran”karena selama ini bibit ikan kecil didapat dari luar Mesuji seperti daerah Jawa. semoga masyarakat segera diajarkan secara mandiri.

Sekretariat Disnakertrans Mesuji, Arif Arianto” saat dihubungi kupastuntas.co menyatakan masyarakat Desa trikarya Mulya sudah mendapatkan bantuan dari Kementerian tenaga kerja RI melalui program tenaga kerja Mandiri.

Iya Pun mengaku siap melaksanakan pendampingan’ pendampingan tetap kami laksanakan terus bersama Dinas Perikanan, Bahkan dalam waktu ini kami akan melatih kelompok masyarakat tersebut untuk membuat pakan ikan Mandiri .ke depannya Desa trikarya Mulya akan kita jadikan sentra perikanan di Kabupaten Mesuji provinsi Lampung “jelas Arif

(Gusti)

Tingkatkan hasil budidaya ikan dengan Manfaatkan limbah sawit sebagai pakan alternatif

Mar 21, 2018
Tingkatkan hasil budidaya ikan dengan Manfaatkan limbah sawit sebagai pakan alternatif

images (4)

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta –

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) siap mengoptimalkan pemanfaatan limbah sawit untuk bahan baku pakan ikan, guna mengurangi impor tepung ikan yang selama ini dinilai cukup tinggi.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto di Jakarta, Rabu (21/3/2018) mengatakan, mulai tingginya minat penggunaan pakan ikan mandiri menuntut pemenuhan kebutuhan bahan baku pakan secara kontinyu.

“Kondisi ini masih menjadi tantangan para pelaku usaha pakan mandiri di beberapa daerah,” katanya saat menyampaikan hasil kunjungan kerjanya di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (20/3) lalu.

Slamet mengakui pada beberapa daerah masih ada kendala dalam penyediaan alternatif bahan baku pakan yang efisien, namun hal itu bukan karena bahan baku yang langka, tapi lebih belum optimalnya sistem logistik pakan, utamanya konektivitas dari sumber bahan baku ke unit usaha pakan mandiri.
unnamed
Jalan keluarnya, menurut dia, mempermudah akses sumber bahan baku dengan koperasi induk pakan mandiri yang ada di daerah melaui kemitraan.

Ini penting, apalagi, menurutnya, ikan yang dibudidayakan sudah sangat adaptif terhadap pakan mandiri.

“Oleh karenanya, penggunaan bahan protein nabati menjadi alternatif untuk mengurangi porsi penggunaan tepung ikan,” katanya.

Salah satu upaya mengurangi porsi penggunaan tepung ikan tersebut, yakni dengan memanfaatkan bungkil kelapa sawit (palm karnel meal/PKM) dimana di Propinsi Riau ketersediaannya sangat melimpah.

Bungkil sawit merupakan produk sampingan dari pembuatan minyak kelapa sawit yang mana ketersediaannya di dalam negeri sangat melimpah, bahkan 94 persen PKM yang diproduksi justru diekspor.

Slamet menilai kondisi ini menjadi peluang besar untuk memanfaatkan PKM ini sebagai bahan baku pakan ikan.

“Bayangkan kita produsen PKM sawit terbesar, artinya suplai sangat melimpah,” katanya.

Sementara itu, tambahnya, berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa PKM sangat potensial untuk bahan baku pakan, bahkan bisa diberikan langsung sebagai salah satu bahan baku pakan, tanpa harus dibuat maggot dulu.

Slamet juga menambahkan bahwa protein dari PKM dapat mengurangi penggunaan protein dari tepung ikan, sehingga harga pakan akan menjadi lebih murah.

Ia juga meminta kepala daerah untuk memfasilitasi kerja sama antara pabrik pengolah sawit dengan koperasi pakan mandiri dalam hal pemanfaatan PKM kelapa sawit melalui program corporate social responsibility (CSR).

Pada kesempatan itu Dirjen mengatakan, Riau merupakan sentra ikan patin nasional, sehingga akan dijadikan percontohan nasional pemanfaatan sumber protein nabati, khususnya PKM sawit.

Di Riau saat ini ada sekitar 48 pabrik industri pengolah sawit, dimana ada sekitar tiga perusahaan yang mengolah PKM sawit. “Kalau 10-20 persen bisa dialokasikan melalui CSR, bisa lebih dari cukup untuk menyuplai kebutuhan pakan mandiri yang ada dan tidak menutup kemungkinan bisa disuplai ke luar Riau,” katanya.

Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional, Syafruddin mengakui penggunaan bungkil kelapa sawit telah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein nabati dalam pakan mandiri.

Penggunaan bungkil sawit dalam pakan ikan berkisar antara 8-10 persen, tambahnya, keuntungan lain memanfaatkan bahan baku ini yakni adanya tambahan kandungan lemak hingga 10 persen, sehingga diharapkan dapat meningkatkan performa pertumbuhan ikan.

“Di Kabupaten Kampar ada lebih dari 300 pelaku pakan mandiri, dari semuanya dibutuhkam sedikitnya 33 ton bungkil sawit per hari,” ujarnya.

Saat ini kebutuhan PKM sawit untuk bahan baku pakan ikan di wilayah tersebut masih disuplai melalui kerjasama dengan Sinar Mas Group yaitu PT Rama-Rama.

PicsArt_03-20-01.12.14

Terima kasih telah membaca berita tentang limbah kelapa sawit sebagai pakan alternatif, sedikit memberikan masukan terkait dengan limbah kelapa sawit yang sering kita jumpai di Sumatera Kalimantan dan Sulawesi seperti jambi-pekanbaru Madang Lampung Palembang Medan Pontianak Banjarmasin Makassar dll. Limbah kelapa sawit ini sangat cocok untuk pakan alternatif ikan seperti ikan nila, ikan lele, ikan gurami, ikan bawal, ikan patin, ikan graskap, ikan mas, dsb. Dengan mengaplikasikan limbah sawit sebagai pakan alternatif untuk meningkatkan hasil produksi budidaya pembesaran dan dapat menekan biaya pakan pabrikan hingga 60%. semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua

KKP lindungi pembudidaya ikan kecil dengan asuransi perikanan

Merdeka.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerja sama antara KKP dengan PT Asuransi Jasa Indonesia/Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).

Menandai hal tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyerahkan secara simbolik polis asuransi kepada perwakilan penerima bantuan program asuransi perikanan bagi pembudidaya kecil di Jakarta, Rabu (13/12).

Menteri Susi menjelaskan bahwa asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil ini merupakan langkah konkret dari komitmen KKP untuk melindungi pembudidaya ikan kecil agar mereka semakin berdaya dan mampu bangkit saat menghadapi kegagalan produksi sehingga usahanya berkelanjutan.

Program asuransi perikanan ini nantinya berjalan dengan skema polis asuransi yang pertama kali ada di Indonesia dan mampu menyentuh pembudidaya ikan kecil. Tahun 2017 setidaknya sebanyak 2.004 orang pembudidaya ikan kecil dengan luas lahan 3.300 hektar akan di-cover program asuransi ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangannya di Jakarta (12/12) mengatakan, asuransi ini akan memberikan jaminan perlindungan atas risiko dalam hal ini mencakup serangan wabah penyakit ikan dan atau bencana alam yang dialami oleh pembudidaya ikan kecil.

Menurutnya, pembudidaya ikan kecil sulit bangkit saat dihadapkan pada kegagalan produksi. Oleh karenanya, asuransi ini menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan bagi pembudidaya ikan kecil agar usahanya berlanjut.
20171213151007-1-menteri-susi-pudjiastuti-saat-tebar-perdana-benih-lele-budidaya-sitem-bioflok-di-jombang-001-hery-h-winarno

Menteri Susi Pudjiastuti saat tebar perdana benih lele budidaya sistem bioflok di Jombang ©2017 Merdeka.com

“Kita ingin pembudidaya kecil ini lebih berdaya, oleh karenanya negara hadir untuk memberikan jaminan keberlanjutan usaha yang digeluti mereka. Tahun 2017 kita inisiasi skema ini dan menjadi yang pertama di Indonesia. Ke depan harapannya akan lebih banyak lagi pembudidaya ikan yang memiliki skala usaha kecil dapat terlindungi dengan asuransi ini,” jelas Slamet dalam keterangannya usai menghadiri acara soft launching Ko-Asuransi dan penandatanganan perjanjian kerjasama Asuransi Usaha Budidaya Udang di Maipark Ballroom Gedung Permata Kuningan Jakarta, Senin (11/12).

Sebagaimana diketahui Ko-Asuransi dibentuk atas kerja sama antara Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KKP untuk memfasilitasi pertanggungan program Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU).

Slamet menambahkan, program asuransi ini merupakan bentuk implementasi dari amanat UU No 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Tambak Garam dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18 Tahun 2016 tentang Jaminan Perlindungan atas Risiko kepada Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

KKP sendiri menetapkan kriteria calon penerima premi asuransi ini, antara lain yakni memiliki kartu pembudidaya ikan (aquacard), diutamakan yang telah mengikuti program Sertifikasi Hak atas Tanah Pembudidaya Ikan (SEHATKAN), sudah tersertifikasi Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) dan merupakan pembudidaya ikan skala kecil dengan pengelolaan lahan kurang dari 5 hektare yang menggunakan teknologi sederhana.

Sebagai gambaran, bentuk bantuan program ini adalah pembayaran premi asuransi perikanan senilai Rp 450.000 per hektare per tahun dengan manfaat pertanggungan Rp 15.000.000, per hektare. Untuk memenuhi nilai tersebut KKP mengalokasikan anggaran senilai Rp 1,48 miliar di Tahun 2017 ini. Sumber : merdeka.com

Artikel Menarik Lainnya :

Wow tingkatkan minat investasi di bidang budidaya perikanan KKP Siapkan prodak asuransi ikan nila dan patin

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Asosiasi Asuransi Umum Indonesia dan Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti (STMA Trisakti) baru-baru ini melakukan focus group discussion (FGD) untuk...

Ikan Lele Sehat dan Hemat Pakan Dengan Probiotik Alami

Budi daya ikan air tawar semakin digemari oleh para wirausahawan untuk menjadikannya sebagai ladang bisnis, termasuk ikan lele yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, salah satu tantangan...

Ikan Lele Menjadi Andalan Sumber Protein di Bintan

Kebutuhan ikan lele yang semakin meningkat di Bintan membuka peluang yang sangat besar bagi masyarakatnya. Baik itu pembudidaya ikan lele, pedagang ikan lele konsumsi, penjual benih ikan...

Pertanian dan budidaya ikan Mina padi” Satu hektar lahan bisa dapat omset 120 juta’

Mina Padi yang merupakan integrasi antara pertanian dan budidaya ikan dalam satu lahan, dapat meningkatkan omset para petani sampai tiga kali lipat, tetapi tak banyak petani yang...