Mentri Susi Pudjiastuti dorong masyarakat Papua untuk budidaya ikan lele sistem bioflok

Mar 22, 2018
Mentri Susi Pudjiastuti dorong masyarakat Papua untuk budidaya ikan lele sistem bioflok

0.13531300-1519726877-830-556

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) konsisten untuk meningkatkan kecukupan gizi dan mendorong perekonomian masyarakat di Provinsi Papua.  Komitmen tersebut diwujudkan dengan pembangunan sektor perikanan melalui berbagai kegiatan usaha di antaranya di bidang perikanan budi daya, seperti dukungan usaha budi daya lele sistem bioflok dan pakan ikan mandiri.

 1003029_175299535982365_80078828_n

 

“Sudah lama saya meminta kepada Dirjen Budidaya untuk mengembangkan lele bioflok di Papua. Kenapa saya prioritaskan karena daerah Papua termasuk yang kekurangan sumber protein,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam siaran pers, Rabu (21/3).

 

Susi menghadiri panen lele bersama di Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Ikan Lele Onomi Hawai, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Ahad (18/3). Hadir pula dalam panen ini Pjs Gubernur Papua, Mayjend TNI (Purn) Soedarmo.

Sebagai informasi, lele bioflok yang dipanen tersebut adalah bantuan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) pada tahun 2017 lalu.

terpal_kolam_bundar_bioflok

Kolamterpal.com

Bantuan tersebut diberikan dalam dua paket yang masing-masing terdiri atas delapan lubang. Masing-masing lubang berisi 3.000 ekor lele dengan ukuran 7-8 cm.

Guna mendukung keberhasilan budi daya tersebut, pemerintah melengkapi bantuan dengan empat ton pakan ikan berikut peralatan penunjang, seperti pompa, blower, dan genset 1.000 KPA.

 

Bantuan tersebut bernilai total Rp 390 juta. Tak hanya bantuan permodalan, pemerintah juga memberikan pendampingan selama tiga minggu kepada pembudi daya dan menyediakan konsultasi yang dapat dilakukan terus-menerus.

Sejak diberikan pada November 2017 lalu hingga hari ini, 16 lubang lele bioflok bantuan tersebut sudah dipanen. Masing-masing lubang menghasilkan lima ton lele dengan ukuran 5-6 ekor per kg.

Upaya KKP mendorong pengembangan budi daya lele sistem bioflok di Papua bukan tanpa alasan. Menteri Susi berharap, dengan teknologi budidaya ini, produksi ikan yang diperoleh dapat berlipat sehingga bisa menjadi pemasok ikan di wilayah Papua. Banyaknya masyarakat yang dapat terlibat juga menjadi pertimbangan.

Bioflok ini bisa dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Selain kelompok pembudi daya ataupun koperasi, sebenarnya masyarakat bisa menerapkan ini.

Untung sampai Rp.3 juta/kolam PONPES Miftahul Huda Pesawahan Kembangkan Budidaya Lele

Mar 19, 2018
Untung sampai Rp.3 juta/kolam PONPES Miftahul Huda Pesawahan Kembangkan Budidaya Lele
imageContent
Banyumas | NU online
Pondok Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah baru-baru ini tengah gencar mengembangkan usaha budidaya lele. Memanfaatkan lahan seluas 5 x 4 di samping komplek pesantren yang awalnya tidak terpakai itu, kini disulap menjadi pusat pembudidayaan ikan lele bernilai ekonomi tinggi.
Kang Heri, santri yang ditugasi mengurus usaha budidaya ikan lele tersebut mengatakan ada 12 kolam lele yang dilakukan dengan sistem bioflok.
“Ada 12 kolam, 6 ukuran dimeter 60 cm dan 5 kolam diameter 90 cm yang sedang kami urus,” katanya. “Setiap kolam, berisi seribu sampai dua ribu benih ikan lele, yang dipisah sesuai dengan ukurannya,” lanjut Heri.
Pembudidayaan yang dilakukan adalah pembesaran, diawali dengan membeli benih ikan yang masih kecil, lalau disortir untuk mengelompokkan besar kecilnya, sesudah itu diletakkan di kolam sesuai dengan ukurannya.
“Masih beli, belum bisa memijah benih ikan sendiri,” tambah santri asal daerah Sumatera itu.
Usaha budidaya lele tersebut sudah berlangsung selam 4 bulan. Pada bulan pertama, kata hari pernah hampir gagal, karena ada sedikit kesalahan yang menyebabkan ikan dikolam pada mati.
“Bulan kedua, tiga, dan sekarang alhamdulillah bisa berjalan lancar,” katanya.
“Keuntungan yang diperoleh tiap kolamnya, satu bulan berkisar 2-3 juta, tergantung ukuran kolam dan isinya,” jelas Kang Heri.
Melatih Santri Berwirausaha
Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Pesawahan, KH Habib Mahfud mengatakan, kegiatan budidaya lele tersebut bertujuan untuk melatih santrinya menekuni dunia wirausaha, dengan harapan jika nanti pulang dari pesantren dan hidup di masyarakat, mereka sudah mereka sudah memiliki ketrampilan.
“Santri pintar ngaji itu wajib, pintar bisnis wirausaha juga harus,” tegasnya ketika ditemui di kediamanya, Jumat (16/3).
Selain itu, juga sebagai bentuk pengembangan potensi desa yang mubah jika tidak dikemukakan untuk sesuatu yang menghasilkan.
Selain budidaya lele, sebelumnya pesantren Miftahul Huda juga telah membuka usaha depot air minum dalam kemasan yang semuanya dikelola oleh para santri. (Kifayatul Ahyar/Fathoni) sumber : NU.or.id

Sukses menjadi pengusaha budidaya ikan lele buah dari kesabaran

Jan 18, 2018
Sukses menjadi pengusaha budidaya ikan lele buah dari kesabaran

IMG-20171215-WA0012.

Tapteng | suarasumut.com  –  Suwandi pengusaha budidaya ikan lele kini menjadi sukses hanya bermodalkan pas-pas an, dan semangat usaha.

Dengan tekadnya, warga Desa Parjalihotan Baru, Kelurahan Pinangsori, Kecamatan Pinangsori ini mengakui sudah mempunyai sebanyak 50 kolam ikan lele terhitung sejak awal dimulai usahanya tahun 2011.

“Awalnya, modal cuma pas-passan, dengan penuh keyakinan kerja, hasilnya begitu lumayan untuk bisa diputar-putar hingga ke perawatan pembibitan,” kata Suwandi saat di lokasi ternaknya, Sabtu (17/12/2017).

Menurutnya, berwirausaha memang dibutuhkan perjuangan yang besar, telaten dan kesabaran yang menjadi kunci sukses dimasa yang akan datang.

“Selama lima tahun itu, saya tetap mencoba berjuang walau terkadang gagal,” kisahnya.

Sebagai bahan bantuan pengetahuan dalam usahanya itu, akhirnya kata Suwandi banyak belajar dari buku budidaya ikan lele. “Saya banyak belajar dari buku budidaya ternak lele itu,” sebutnya.

Dari segi hasil, ia mengatakan, penjualan anak ikan lele itu bisa mencapai 3 ratus ribu benih lele dan semua habis dikirim ke luar kota.

“Paling ditinggalkan cuma beberapa ribulah disini buat komsumsi, yang dijual ke luar kota itu maksimal usia 1 bulan, terkadang kita juga masih kekurangan bibit, karena bibit diborong terus,” ujarnya.

Sebagai pengangkut berupa alat transportasi hasil ternaknya peternak ini mengaku belum mempunyai kendaraan berupa roda tiga. “Harapan kami ini bisa tercapai nanti,” pinta Suwandi.(ph/ss-tt)

11 desa di Bangka tengah menjadi tempat pembudidaya ikan air tawar

Jan 18, 2018
11 desa di Bangka tengah menjadi tempat pembudidaya ikan air tawar

BANGKAPOS.COM -Wilayah Bangka Tengah (Bateng) saat ini cukup potensial untuk dijadikan tempat budidaya ikan khususnya air tawar.

Pasalnya, saat ini tercatat sudah 11 desa yang menerapkan hal tersebut, Rabu (17/1/2018).

Sudah memiliki belasan tempat budidaya ikan, ternyata belum membuat dinas perikanan senang. Jumlah tersebut ternyata masih akan terus ditambah oleh Dinas Perikanan Kabupaten Bateng.

keramba-ikan-air-tawar_20170529_161109

Sebab, usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sektor perikanan, sesuai dengan target yang diharapkan dari Bupati Bateng.

Kepala Dinas Perikanan Bateng Dedy Muchdiyat mengatakan 11 desa tersebut juga merupakan hasil pengelolaan oleh 11 Pokdakan (Kelompok Budidaya Ikan) daerah, yang telah berdiri sejak tahun 2017.

Dedy menyebutkan 11 desa yang sudah menjadi sentra budidaya ikan ini diantaranya desa Kayu Besi, Baskara Bakti, Air Mesu, Cambai, Bukit Kijang, Lubuk Besar, Lubuk Lingkuk, Batu Beriga, Pedindang, Sungai Selan Atas , dan Beruas.

“Seluruhnya sudah jalan, ada Pokdakannya, sebelum di jadikan tempat budidaya, kita uji sample dulu, karena yang kita gunakan kan eks Tambang, kita uji, apakah bebas dari mercury, dan timbal, layak atau tidak dijadikan tempat budidaya, untuk pengujinya sendiri kita dibantu dari DLH provinsi,” katanya.(*)


 

Pertanian dan budidaya ikan Mina padi” Satu hektar lahan bisa dapat omset 120 juta’

Mina Padi yang merupakan integrasi antara pertanian dan budidaya ikan dalam satu lahan, dapat meningkatkan omset para petani sampai tiga kali lipat, tetapi tak banyak petani yang dengan mudah beralih ke Mina Padi.

Sigit mengatakan budidaya ikan di lahan persawahan ini sudah dilakukan secara tradisional oleh kakeknya, tetapi dia baru mengembangkannya beberapa tahun terakhir.

Mina padi, menurut Sigit, lebih menguntungkan dibandingkan sawah konvensional

Dia mengaku pernah mendapatkan omset sekitar 120 juta rupiah dari satu hektar sawah dari padi dan ikan.

“Kalau padi biasa (keuntungan) per 1.000 (meter) itu sampai 1,5 sampai 2 juta itu sudah bagus, untuk mina padi keuntungan 4-5 juta jadi sekitar 3 kali lipat,” jelas Sigit

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan secara ekonomi, keuntungan petani dapat meningkat tergantung dari komoditasnya.

“Kalau dengan udang galah bisa besar lagi, bisa menghasilkan 1-2 ton per hektar dengan harga sekitar 90 ribu untuk size 40 centimeter, bisa mencapai keuntungan 80-100 jutaan,” jelas Slamet.

Dia memperkirakan integrasi padi dan budidaya ikan bisa meningkatkan pendapatkan petani sampai RP 60 juta per hektar.

_98121578_img_2973Hak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionSigit Paryono mengatakan Mina Padi lebih menguntungkan petani sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Tanpa pestisida dan bebas hama

Keuntungan lain dari mina padi, menurut Sigit, petani tak mengalami banyak kerugian jika sawahnya mengalami gagal panen, karena masih mendapatkan manfaat dari budidaya ikan.

“Keunggulan lainnya, (sawah) konvensional itu sudah habis modal ga kembali, kalau mina padi kita ada harapan dari ikannya.

Selain keuntungan ganda yang didapat dari lahan mina padi, harga jual padinya pun lebih mahal dibandingkan dengan padi biasa, karena bebas pupuk kimia.

“Awalnya kita pakai pupuk tapi terus berkurang, sampai sekarang gak usah pakenih liat padinya ga kalah dengan yang pake pupuk toh, besar-besar, kotoran ikan yang membantu (pertumbuhan padi),” jelas Sigit sambil menunjuk ke lahan padi yang berada di dalam genangan air kolam.

Mina padi ini menggunakan ‘pendekatan ekosistem’ dan secara perlahan akan menghilangkan ketergantungan terhadap penggunaan pestisida.

Kualitas padi dari lahan mina padi, menurut Slamet, juga lebih baik setelah diuji padi dari mina padi memiliki kadar glukosa yang lebih rendah.

“Cocok untuk penderita diabetes, permintaan pun semakin banyak,” kata dia.

Keuntungan lain dari sistem mina padi adalah petani masih mendapatkan keuntungan walaupun padinya terkena hama.

“Contohnya padinya terkena hama, kita bisa potong dan ikannya kita tambah pakan lagi ‘kan masih (tetap) bisa dipanen,” kata Sigit.

_98121572_mina7Hak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionKeuntungan mina padi tergantung pada komoditas yang dibudidayakan.

Meski begitu, Sigit menyebutkan mina padi lebih kebal hama dibandingkan sawah biasa.

“Antara lain hama wereng dan tikus tidak ada, yang ada ya berang-berang,” kata Sigit.

Berang-berang biasanya menyerang ikan-ikan dan bisa merusak tanaman padi juga karena mereka berenang di sela-sela rumpun padi.

Tak banyak peminat dan ‘mahal’

Meski mina padi lebih menguntungkan, kenyataannya tak banyak petani yang berminat beralih dari sawah konvensional. Sigit mengakui mengelola mina padi tak mudah dan cara kerjanya berbeda dengan petani biasa.

“Mengelolanya kebanyakan ga bener seperti kasih pakannya (cara) buat caren dan kolam dalem itu ga sesuai, jadi malah rugi, kuncinya di perawatan dan kolamnya harus dalam, kalau petani konvensional itu kan agak sulit karena harus kehilangan lahan beberapa kan, padahal hasilnya lebih untung,” kata Sigit.

Selain itu, setiap malam Sigit juga harus mengawasi dan menyalurkan air sungai ke dalam kolam agar kedalaman kolam terjaga.

“Kan kita keluar cari air, kita isi penuh (kolam) yang mina padi ini, kalau petani biasa kan lihat sawah seminggu sekali, agak susah kalau ga tekun,” kata pria yang semula merupakan peternak ikan ini.

Sulitnya mengelola mina padi itu membuat anggota kelompok taninya menyusut, dari jumlah 50 orang, kini hanya tersisa 10 orang. Selain di Cibluk, percontohan Mina Padi juga ada sejumlah desa di Kabupaten Sleman dan Kulon Progo.

_98121538_mina5Hak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionSigit mengatakan petani yang menggeluti mina padi harus lebih telaten.

Kepala bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman, Sri Purwaningsih, juga mengakui sulit untuk mengajak petani beralih ke mina padi, walaupun lebih menguntungkan.

Untuk itu dinas pertanian kabupaten Sleman melibatkan para petani muda untuk mengelola mina padi.

“Kami sebagai lokomotif penggeraknya itu kaum muda yang punya kolam ikan, tetapi keluarganya atau ayahnya itu punya sawah, jadi mereka itu yang menjadi pilot projectnya, kalau mereka sudah bisa membuktikan, ternyata warga sekitarnya juga bisa tertarik pada mina padi. Ada 100 hektar dari potensi yang ada kurang lebih 2.000 hektar,” jelas Kepala bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman Sri Purwaningsih.

Selain membutuhkan lebih banyak waktu, biaya awal untuk membuat Mina Padi juga lebih mahal dibandingkan petani kovensional.

“Ya bisa mencapai 8 juta karena harus ada bibit ikan juga dan membuat kolam,” kata dia

 

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatakan sejak 2015 pemerintah bekerja sama dengan Badan Pangan Dunia FAO untuk mengembangkan mina padi di Sleman dan Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat, dengan luas 25 hektar tiap lokasi.

Kini, selain di provinsi DIY, mina padi juga diterapkan di sejumlah desa di Sumatera Barat, Jawa Barat antara lain Sukabumi.

_98121536_mina4
Hak atas fotoBBC INDONESIA

Pemerintah kembangkan Mina padi

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan sekitar 210 hektar lahan pertanian sudah menerapkan mina padi, dan rencananya pada tahun depan akan mengembangkan 300 hektar mina padi dengan anggaran RP 9 milliar.

“Bantuan yang kita berikan model percontohan bagi masyarakat, adalah model percontohan pada masyarakat itu ikannya, benih padinya itu dari mereka. Pembuaran sarennya,termasuk kita latih mereka berbudidaya, bantuan benih dan pakan kita kasih termasuk kita arahkan ke mana dijualnya untuk pasarnya,” kata Slamet.

Namun, Slamet mengatakan tujuan utama pemberian bantuan untuk pengembangan mina padi ini untuk ketahanan pangan.

“Padi sumber karbohidratnya dan ikan sumber protein,” kata dia.

Meski pemerintah memberikan bantuan, Slamet mengatakan masih ada petani yang menolak mengembangkan mina padi karena khawatir produksi padi turun dengan pembagian lahan sawah dan kolam ikan.

“Kita kurang ada dukungan, tapi sudah mulai meningkat dukungan karena karena sudah melihat langsung bahwa pengurangan lahan 20% tidak menurunkan produksi,” kata Slamet.

KKP menyebutkan dari delapan juta hektar lahan pertanian di Indonesia, sekitar 4,9 juta diantaranya cocok untuk mina padi.

“Syaratnya butuh sistem irigasi teknis yang baik, karena butuh banyak air untuk kolam,” kata dia.

Sumber :BBC.COM

Artikel Menarik Lainnya :

Pemkab Kukar Kembangkan Budidaya Ikan Gurami

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur melakukan pengembangan ikan gurami di wilayah tersebut. “Ikan gurami ini coba dikembangbiakan guna memperkaya jenis ikan di wilayah tersebut disamping memberikan...

Jual Bibit Ikan Air Tawar di Nabire – Papua

Nabire – Papua mempunyai potensi alam dan pasar yang sangat bagus untuk budidaya ikan air tawar, dengan demikian maka budidaya ikan lele, nila, gurami dan ikan air...

Ikan Hias – Mengenal Ikan Mas Koki

Keindahan ikan mas koki merupakan salah satu daya tarik dari beraneka jenis ikan hias yang populer di masyarakat. Orang memelihara ikan ini sebagai hobi atau sebagai usaha...

DKPP Sibolga Gelar Pelatihan Budidaya Ikan

Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Sibolga menggelar pelatihan budidaya ikan selama dua hari, Kamis (12/9) dan Jumat (13/9) di kantornya, Desa Pondok Batu, Kecamatan Sarudik. Pelatihan...