Kekurangan pasokan ikan konsumsi DKP NTT salurkan 20.000 ekor benih Nila di kota kupang

Mar 22, 2018
Kekurangan pasokan ikan konsumsi DKP NTT salurkan 20.000 ekor benih Nila di kota kupang

Bisnis” usaha budidaya pembesaran ikan lele makin menguntungkan

Bantuan ketahanan pangan

Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berupaya mengembangkan program ternak lele biofloc di desa-desa seluruh nusantara. Budidaya pembesaran ikan lele dengan menggunakan media ini baru saja dirintis sekitar lima bulan lalu.

Berbeda dengan ternak lele yang konvensional, pada sistem biofloc tidak diperlukan lahan kolam yang luas untuk budidaya lele, namun bisa mendapatkan hasil panen yang memuaskan

“Cukup kolam buatan menggunakan bahan terpal dengan rangka bambu atau besi namun dengan kualitas air yang ditingkatkan menggunakan mesin airator yang memasok sirkulasi oksigen dalam kolam,” ujar Doli Pardede, pemuda asal Samosir, Sumatera Utara, di acara pameran UMKM Rakornas PDIP, di ICE BSD, Banteng, Minggu (17/12).

Doli menjelaskan, untuk pemula yang ingin berbisnis Lele biofloc ini, cukup hanya mengeluarkan kocek sebesar Rp 6 juta sebagai modal awal. Dengan modal tersebut menurutnya dapat membuat dua kolam berbentuk lingkaran berdiameter 2,5 meter yang dapat menampung bibit lele hingga 5.000 ekor lele.

“Untuk satu kolam menghabiskan anggaran dua juta rupiah. Bibit lele itu sekitar dua juta, sisanya dua juta untuk pangan. Jadi ini enggak perlu di lahan yang luas, di rumah juga bisa,” jelasnya.

Dia melanjutkan, dengan sistem biofloc ini mampu mendongkrak produktivitas ikan lele yang berlipat. Sehingga biaya produksi berkurang dibandingkan dengan budidaya secara konvensional. Dia menjelaskan untuk satu kolam lele yang berhasil dipanen itu bisa mencapai 4 kuintal lebih, dengan rata-rata 8 ekor per kilogramnya.

“Untuk omzet yang kami dapat saat panen, untuk satu kolam bisa mencapai Rp 7 sampai 8 juta per kolamnya, sementara untuk pemasarannya kita lebih banyak untuk ke lesehan, rumah makan. Pasar-pasar tradisional,” ungkapnya.

Doli menuturkan pemberian pangan untuk budidaya ikan lele dengan sistem biofloc dijamin bersih dengan memberikan pelet yang diolah tanpa bahan kimia. Selain itu juga kandungan protein dan omega yang dikandung oleh lele biofloc bahkan bisa menyamai ikan Salmon.

“Banyak orang berpikiran kalau lele itu jorok. Kalau ternak sistem biofloc ini kami jamin bersih. Bahkan yang tadi tidak suka lele kalau makan lele bioflocjadi suka,” pungkasnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Bantu Modal Usaha Budidaya Ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Malang Gencarkan Program Jaminan Tanah untuk petani pembudidaya ikan

MALANGTIMES – Upaya meningkatkan perekonomian nelayan di wilayah Kabupaten Malang semakin digencarkan. Salah satunya, Dinas Perikanan menggeber program Pra-Sertifikasi Hak Atas Tanah Pembudidaya Ikan (Pra-SEHATKan) dengan menggandeng Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam  jaminan sertifikat tanahnya untuk modal usaha.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Endang Retnowati menjelaskan program Pra-SEHATKan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian  bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Malang. “Maksudnya, kelompok pembudidaya ikan bisa meminjam modal melalui perbankan dengan jaminan sertifikat tanah yang jelas kepemilikannya. Karena itu, kami menggandeng pihak BPN juga,” kata perempuan yang akrab disapa Atik tersebut.

Program Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menyejahterakan perekonomian kelompok pembudidaya ikan di Kabupaten Malang ini sudah dilaksanakan di Desa Maguan, Kecamatan Ngajum. “Tiga hari lalu, kami berikan mereka pemahaman bagaimana alur mendapatkan permodalan dari pihak perbankan untuk menyalurkan kreditnya. Masyarakat paham apa saja yang harus dipersiapkan agar mendapatkan uang permodalan dari bank dengan terlebih dahulu mengurus berkas kepengurusan sertifikat tanahnya,” terang Atik.

Lebih lanjut Atik memaparkan bila pembudidaya ikan sudah memiliki sertifikat tanah, diharapkan sertifikat itu bisa meningkatkan pengembangan usaha budidaya melalui agunan sertifikat yang sudah dimiliki pembudidaya ikan tersebut. “Keuntungannya di sini, pembudidaya ikan bisa menggunakan modalnya untuk pengembangan usaha ikan atau kegiatan lainnya dalam rangka pengembangan ekonomi produktif yang mandiri,” ujar dia.

Di samping itu, Dinas Perikanan Kabupaten Malang berharap  program Pra-SeHATKan berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.  “Program Pra-SEHATKan ini akan terus kami sosialisasikan, menyebar ke wilayah yang mayoritas dihuni oleh kelompok pembudidaya ikan seperti di Tirtoyudo, Pujiharjo, Bantur, dan kecamatan lainnya di Kabupaten Malang,” ucapnya. (*)

KKP lindungi pembudidaya ikan kecil dengan asuransi perikanan

Merdeka.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerja sama antara KKP dengan PT Asuransi Jasa Indonesia/Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).

Menandai hal tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyerahkan secara simbolik polis asuransi kepada perwakilan penerima bantuan program asuransi perikanan bagi pembudidaya kecil di Jakarta, Rabu (13/12).

Menteri Susi menjelaskan bahwa asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil ini merupakan langkah konkret dari komitmen KKP untuk melindungi pembudidaya ikan kecil agar mereka semakin berdaya dan mampu bangkit saat menghadapi kegagalan produksi sehingga usahanya berkelanjutan.

Program asuransi perikanan ini nantinya berjalan dengan skema polis asuransi yang pertama kali ada di Indonesia dan mampu menyentuh pembudidaya ikan kecil. Tahun 2017 setidaknya sebanyak 2.004 orang pembudidaya ikan kecil dengan luas lahan 3.300 hektar akan di-cover program asuransi ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangannya di Jakarta (12/12) mengatakan, asuransi ini akan memberikan jaminan perlindungan atas risiko dalam hal ini mencakup serangan wabah penyakit ikan dan atau bencana alam yang dialami oleh pembudidaya ikan kecil.

Menurutnya, pembudidaya ikan kecil sulit bangkit saat dihadapkan pada kegagalan produksi. Oleh karenanya, asuransi ini menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan bagi pembudidaya ikan kecil agar usahanya berlanjut.
20171213151007-1-menteri-susi-pudjiastuti-saat-tebar-perdana-benih-lele-budidaya-sitem-bioflok-di-jombang-001-hery-h-winarno

Menteri Susi Pudjiastuti saat tebar perdana benih lele budidaya sistem bioflok di Jombang ©2017 Merdeka.com

“Kita ingin pembudidaya kecil ini lebih berdaya, oleh karenanya negara hadir untuk memberikan jaminan keberlanjutan usaha yang digeluti mereka. Tahun 2017 kita inisiasi skema ini dan menjadi yang pertama di Indonesia. Ke depan harapannya akan lebih banyak lagi pembudidaya ikan yang memiliki skala usaha kecil dapat terlindungi dengan asuransi ini,” jelas Slamet dalam keterangannya usai menghadiri acara soft launching Ko-Asuransi dan penandatanganan perjanjian kerjasama Asuransi Usaha Budidaya Udang di Maipark Ballroom Gedung Permata Kuningan Jakarta, Senin (11/12).

Sebagaimana diketahui Ko-Asuransi dibentuk atas kerja sama antara Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KKP untuk memfasilitasi pertanggungan program Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU).

Slamet menambahkan, program asuransi ini merupakan bentuk implementasi dari amanat UU No 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Tambak Garam dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18 Tahun 2016 tentang Jaminan Perlindungan atas Risiko kepada Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

KKP sendiri menetapkan kriteria calon penerima premi asuransi ini, antara lain yakni memiliki kartu pembudidaya ikan (aquacard), diutamakan yang telah mengikuti program Sertifikasi Hak atas Tanah Pembudidaya Ikan (SEHATKAN), sudah tersertifikasi Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) dan merupakan pembudidaya ikan skala kecil dengan pengelolaan lahan kurang dari 5 hektare yang menggunakan teknologi sederhana.

Sebagai gambaran, bentuk bantuan program ini adalah pembayaran premi asuransi perikanan senilai Rp 450.000 per hektare per tahun dengan manfaat pertanggungan Rp 15.000.000, per hektare. Untuk memenuhi nilai tersebut KKP mengalokasikan anggaran senilai Rp 1,48 miliar di Tahun 2017 ini. Sumber : merdeka.com

Artikel Menarik Lainnya :

Teknik Budidaya Lele Efisien Pakan

Banyak cara yang dilakukan para pembudidaya lele dalam menjari jalan keluar dari persoalan terus melambungnya harga pakan yang kini telah menembus Rp8.300/kg. Mulai dari membuat pakan alternatif,...

Penanganan Pasca Panen Ikan Lele

Ikan lele konsumsi biasanya dijual dalam keadaan hidup, sama seperti ikan air tawar lainnya. Ikan lele merupakan salah satu hasil peternakan yang kaya akan gizi. Ikan lele...

Jual Benih Ikan Air Tawar Kualitas Budidaya di Bengkulu – Sumatra Barat

Bengkulu – Sumatra mempunyai potensi alam dan pasar yang sangat bagus untuk budidaya ikan air tawar, maka dari itu peluang budidaya ikan lele, nila, gurami dan ikan...

Budidaya Ikan Nila di Lembaga Amal Zakat

Budidaya ikan nila tidak hanya diminati oleh masyarakat umum maupun petani ikan pada umumnya. Ada salah satu organisasi amala yang ada di Batam juga tertarik membudidayakan ikan...