Wow” 2019 KKP Medan menyediakan asuransi bagi pembudidaya ikan air tawar dan payau

Feb 07, 2019
Wow" 2019 KKP Medan menyediakan asuransi bagi pembudidaya ikan air tawar dan payau

budidaya ikan nila di karamba

MedanBisnis – Medan. Tahun 2019, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyediakan asuransi bagi pembudidaya ikan air tawar dan air payau. Asuransi itu diharapkan dapat membantu pembudidaya ikan.

Namun, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Langkat mengusulkan adanya revisi terhadap kriteria penerima asuransi karena dianggap kurang sejalan dengan era masa kini yang mengarah pada upaya peningkatan kualitas dan produktivitas.

Beberapa waktu lalu, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan kelautan Sumatera Utara (Sumut), Agustono mengatakan, tahun ini program asuransi yang disediakan diperuntukkan bagi pembudidaya di air tawar dan air payau.

 

Tahun sebelumnya hanya untuk pembudidaya di air payau. “Budidaya ikan di air tawar kan juga banyak. Jadi tahun ini mereka masuk dalam kriteria penerima,” katanya.

 

Pada 11 Januari lalu, pihaknya menerima surat dari Dirjen Perikanan Budidaya KKP, tertanggal 10 Desember 2018 tentang usulan calon penerima bantuan pemerintah premi asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil (APPIK) 2019.

 

Di surat disebutkan, premi APPIK dilaksanakan dalam rangka memberikan jaminan perlindungan dalam usaha pembesaran udang, bandeng, nila, patin di kolam atau tambak dengan metode monokultur/polikultur dengan teknologi sederhana tahun 2019 dengan target 5.000 hektare.

 

Dengan persyaratan, dua hektare untuk pembudidaya di air tawar dan lima hektare untuk pembudidaya di air payau. Pembudidaya juga sudah harus terdaftar dalam database Kartu KUSUKA dan diutamakan sudah tersertifikasi CBIB atau cara budidaya ikan yang baik.

 

“Surat ini akan kita kirimkan ke kabupaten/kota. Harapannya kabupaten/kota mengusulkan, sehingga tidak hanya satu orang saja seperti 2018,” ungkapnya.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan Langkat, Agung Sugiarta mengatakan, adanya asuransi bagi pembudidaya ikan di air tawar dan air payau sangat baik.

 

Namun pihaknya mengusulkan adanya revisi terhadap kriteria penerima asuransi karena di Langkat hanya sedikit saja pembudidaya tradisional/alam.

Dia memperkirakan luasnya tak sampai 50 hektare dan tempatnya terpisah-pisah seperti di Secanggang dan Pangkalan Susu.

 

�Umumnya di Langkat, pembudidaya di air tawar sudah semi intensif yang modal usahanya cukup besar atau di kisaran Rp 20 juta � Rp 30 juta per hektare. Berbeda dengan budidaya air payau atau tambak tradisional yang sekitar Rp 5 jutaan per hektare,� jelasnya.

 

Di tambak semi intensif, kepadatan ikan 20 ekor per meter persegi. Jika lahan yang dimiliki 3.000 meter, maka benih yang ditebar minimal 60.000 ekor. Harga benih ikan nila misalnya, Rp 40 per ekor. Dikalikan 60.000 ekor, maka modal yang diperlukan Rp 2,4 juta.

 

Lalu, dengan populasi ikan sebanyak itu dibutuhkan pakan sebanyak satu ton yang nilainya setara Rp 16 juta. Ditambah lagi dengan biaya membuang lumpur dan lainnya di lahan, sebesar Rp 1.000.000. Biayanya cukup besar.

Selain itu, tambak semi intensif membutuhkan putaran kincir untuk memasok oksigen dalam air, yang harus dioperasikan di umur 1-3 bulan. Dalam satu hari menghabiskan 15 liter minyak.

 

“Jadi kalau asuransi itu untuk tambak tradisional, kita susah mencari siapa yang mau. Kita lihat penerima asuransi kemarin, tak mau lagi karena mengurusnya panjang dan ribet, tapi dapatnya cuma Rp 1,4 juta. Lebih banyak energi dari yang diterima,” katanya, Selasa (5/2).

 

Sebenarnya, pihaknya sudah pernah berkonsultasi dan menyampaikannya ke pusat tentang perlunya perubahan kriteria penerima asuransi tersebut karena kurang sejalan dengan era sekarang yang mendorong peningkatan produksi dan kualitas.

 

“Di Langkat ini kebanyakan semi intensif. Ada sekitar 3.000-an hektare. Jadi sebaiknya ada perubahan lah siapa yang menerima. Kriterianya itu diubah. Kami di Langkat berharap seperti itu,” katanya. (dewantoro) sumber : medanbisnisdaily.com

Fuad Amarullah DPRD Mesuji ajak masyarakat manfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya ikan

Mar 22, 2018
Fuad Amarullah DPRD Mesuji ajak masyarakat manfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya ikan

Screenshot_2018-03-22-00-38-49-402_com.android.chrome


Kupastuntas.co – ketua DPRD Mesuji, Fuad Amarullah kunjungi kelompok masyarakat budidaya aneka ikan Desa Tri Karya Mulya, kecamatan Tanjung Raya Mesuji Lampung Rabu 21 Maret 2018.

Fuad menceritakan masyarakat Desa trikarya Mulya mengolah tanah pekarangan rumah menjadi tempat budidaya ikan berupa ikan lele patin gurame Nila bawal graskap bahkan ikan hias” desa trikarya Mulya punya Potensi perikanan

Selain pekarangan, lanjut Fuad”masyarakat juga melakukan eksperimen dengan memanfaatkan kolam karet untuk budidaya ikan lele, demi berinovasi mereka nekat walaupun harus uji laboratorium dahulu Apakah ikan yang dibesarkan di kolam karet bisa dikonsumsi atau tidak.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah semangat mereka untuk memanfaatkan lahan sekitar rumah adalah suatu hal yang menarik. Kekompakan mereka mesti kita support (dukung red) seru ketua DPRD Mesuji Partai Nasdem inibudidaya ikan gurame di kolam semen

Dari laporan masyarakat, kata Fuad” bahwa sudah ada bantuan dari Disnakertrans Mesuji namun masyarakat masih memerlukan pembinaan lebih lanjut. Dia berharap dinas terkait dapat lebih fokus lagi untuk melakukan pembinaan dan pelatihan pelatihan, seperti pemijahan dan pemasaran”karena selama ini bibit ikan kecil didapat dari luar Mesuji seperti daerah Jawa. semoga masyarakat segera diajarkan secara mandiri.

Sekretariat Disnakertrans Mesuji, Arif Arianto” saat dihubungi kupastuntas.co menyatakan masyarakat Desa trikarya Mulya sudah mendapatkan bantuan dari Kementerian tenaga kerja RI melalui program tenaga kerja Mandiri.

Iya Pun mengaku siap melaksanakan pendampingan’ pendampingan tetap kami laksanakan terus bersama Dinas Perikanan, Bahkan dalam waktu ini kami akan melatih kelompok masyarakat tersebut untuk membuat pakan ikan Mandiri .ke depannya Desa trikarya Mulya akan kita jadikan sentra perikanan di Kabupaten Mesuji provinsi Lampung “jelas Arif

(Gusti)

11 desa di Bangka tengah menjadi tempat pembudidaya ikan air tawar

Jan 18, 2018
11 desa di Bangka tengah menjadi tempat pembudidaya ikan air tawar

BANGKAPOS.COM -Wilayah Bangka Tengah (Bateng) saat ini cukup potensial untuk dijadikan tempat budidaya ikan khususnya air tawar.

Pasalnya, saat ini tercatat sudah 11 desa yang menerapkan hal tersebut, Rabu (17/1/2018).

Sudah memiliki belasan tempat budidaya ikan, ternyata belum membuat dinas perikanan senang. Jumlah tersebut ternyata masih akan terus ditambah oleh Dinas Perikanan Kabupaten Bateng.

keramba-ikan-air-tawar_20170529_161109

Sebab, usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sektor perikanan, sesuai dengan target yang diharapkan dari Bupati Bateng.

Kepala Dinas Perikanan Bateng Dedy Muchdiyat mengatakan 11 desa tersebut juga merupakan hasil pengelolaan oleh 11 Pokdakan (Kelompok Budidaya Ikan) daerah, yang telah berdiri sejak tahun 2017.

Dedy menyebutkan 11 desa yang sudah menjadi sentra budidaya ikan ini diantaranya desa Kayu Besi, Baskara Bakti, Air Mesu, Cambai, Bukit Kijang, Lubuk Besar, Lubuk Lingkuk, Batu Beriga, Pedindang, Sungai Selan Atas , dan Beruas.

“Seluruhnya sudah jalan, ada Pokdakannya, sebelum di jadikan tempat budidaya, kita uji sample dulu, karena yang kita gunakan kan eks Tambang, kita uji, apakah bebas dari mercury, dan timbal, layak atau tidak dijadikan tempat budidaya, untuk pengujinya sendiri kita dibantu dari DLH provinsi,” katanya.(*)


 

Artikel Menarik Lainnya :

Manfaatkan Kolam Kecil, Subari Raup Untung Dengan Budidaya Nila di Balikpapan

Selain dapat menambah pendapatan, memiliki kolam ikan bisa menghilangkan kejenuhan, hasilnya pun cukup lumayan untuk menambah penghasilan. Hal tersebut dirasakan oleh Subari, Ketua RT 10 Kelurahan Prapatan,...

Pentingnya Menjaga Kualitas Ikan Nila Unggulan

Pembenihan ikan nila secara sembarangan akan mengakibatkan penurunan performa dan kualitas benih ikan nila itu yang dihasilkan, hal ini menyebabkan kerugian bagi pembudidaya ikan nila dan semakin...

Meski Harga Jual Fluktuatif, Budidaya Lele Tetap Prospektif

Keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan ikan lele membuat pasar ikan lele mengalami pasang surut sepanjang tahun 2015 lalu, akibatnya harga jual ikan lele menjadi naik turun. Hal...

Budidaya Gurame – Bisnis Rumahan Yang Menguntungkan Di Pedesaan

Bisnis di daerah pedesaan saat ini masih dianggap hal yang sulit untuk dikembangkan, dan masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Padahal, sebenarnya sangat banyak segmen usaha...