STP Serang Ciptakan Inovasi Busmetik – Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik

Budidaya udang yang akhir-akhir ini mulai digencarkan kembali, membuat pakar-pakar perikanan menciptakan inovasi dalam budidaya udang. Salah satunya adalah Busmetik, yaitu sebuah inovasi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik.

Dalam rangka mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan dan revitalisasi budidaya udang di Pantura yang sedang gencar dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Bagian Administrasi Pendidikan dan Pelatihan Lapangan (BAPPL) Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Serang menyelenggarakan kegiatan panen udang dengan menggunakan teknologi Busmetik hasil praktek para taruna STP.

budidaya udang di kolam plastik

Seperti terungkap dalam siaran pers Humas KKP, kegiatan ini dilaksanakan, Kamis (28/3) pagi, di Kampus BAPPL STP Serang, Jl. Samudera Raya, Karang Antu, Serang. BAPPL STP terletak kurang lebih 90 km dari Jakarta ke arah barat. Kampus ini memiliki tugas pokok dan fungsi mendukung visi dan misi STP yaitu mencetak lulusan yang kompeten dan inovatif di bidang kelautan dan perikanan.

Wujud nyata yang telah dilakukan dalam mendukung visi misi tersebut adalah mengembangkan kampus menjadi kampus “Be Science” (Blue Ecomomy on Srimp Culture with Integrated Enviromental Concept).

Busmetik yang dikembangkan oleh kampus ini merupakan inovasi teknologi budidaya udang melalui suatu kajian ilmiah yang terukur. Selain menghasilkan produksi yang lebih banyak dan berkualitas dibanding dengan budidaya udang tradisional, Busmetik juga memiliki keunggulan dalam hal efisiensi biaya.

Latar belakang pengembangan teknologi ini adalah dikarenakan udang merupakan komoditas unggulan KKP, rasio pembudidaya udang dengan kelompok pemodal menengah ke bawah masih tinggi (lebih dari 60%), kegagalan pembudidaya udang yang menggunakan petak konvensional (luasan petakan lebih dari 3000 m), perlunya pengelolaan yang efektif dan efisian untuk mengoptimalkan margin usaha, serta menurunnya kualitas lingkungan budidaya.

Teknologi Busmetik telah diimplementasikan sebagai instrumen utama pembelajaran model teaching factory yang merupakan kebijakan lembaga pendidikan vokasi KKP. Lembaga pendidikan tersebut terdiri dari (STP) di Jakarta, Bogor, Serang, Akademi Perikanan (AP) Sidoarjo, AP Bitung, AP Sorong, Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ladong, SUPM Pariaman, SUPM Kota Agung, SUPM Tegal, SUPM Pontianak, SUPM Bone, SUPM Ambon, SUPM Kupang, dan SUPM Sorong.

Model teaching factory tersebut memberikan para peserta didik porsi kegiatan praktek yang lebih banyak daripada teori, dengan perbandingan 70:30. Pendekatan pendidikan ini pada hakekatnya merupakan perpaduan antara “competency based training” dengan “production based training”.

Dengan kata lain, pendekatan ini merupakan proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya dalam suatu alur produksi untuk menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan tuntutan konsumen atau pasar.

Teaching factory didukung dengan sarana dan prasaran yang memadai, setara dengan dunia usaha dan dunia industri sesungguhnya. Pendekatan ini terbukti menghasilkan lulusan yang mampu menjadi tenaga profesional di bidangnya atau sebagai wirausaha baru.

Karena itu, pada penerapan teaching factory di kegiatan budidaya udang dengan menggunakan teknologi Busmetik ini, semua peserta didik dilibatkan dalam seluruh proses kegiatan budidaya. Proses tersebut dimulai dari persiapan, pemeliharaan, panen, dan pasca panen sebagai layaknya unit produksi yang berkesinambungan.

Sejalan dengan perkembangan waktu, kegiatan budidaya udang ini kini disinergikan dengan beberapa kegiatan lain sesuai dengan pendekatan blue economy, yaitu pemanfaatan limbah budidaya untuk pertumbuhan vegetasi mangrove dan bandeng, bunga mangrove untuk pengembangan lebah madu, daun mangrove untuk konsumsi binatang ruminansia seperti kambing, serta pemanfaatan lahan sekitar mangrove untuk budidaya kepiting. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi limbah yang terbuang tanpa dimanfaatkan (zero waste).

Model ini diimpementasikan oleh BAPPL dan didiseminasikan kepada peserta didik sehingga nantinya tercipta lulusan yang berjiwa wirausaha yang berorientasi kepada produksi dan mempunyai kreativitas untuk menciptakan inovasi baru yang dapat meningkatkan efisiensi sumberdaya yang ada dan tentunya akan meningkatkan margin.

Sebagai bagian dari tri darma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat, BAPPL juga mengambil peran aktif dalam hal tersebut. Wujud nyata yang sudah dilaksanakan berupa penyelenggarakaan pelatihan budidaya udang bagi penyuluh, tenaga pendidik, mahasiswa, dan masyarakat pembudidaya udang.

Keberhasilan budidaya udang dengan teknologi BUSMETIK yang diintegrasikan dengan pendekatan Blue Economy telah mendorong Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) untuk mencangkan kampus BAPPL sebagai salah satu kampus “show window” budidaya udang dengan pendekatan Blue Economy.

Melalui kegiatan panen udang ini, diharapkan dapat terciptanya SDM andal dan kompeten yang secara profesional dapat mengembangkan teknologi budidaya udang untuk kesuksesan wirausaha, baik bagi dirinya, maupun bagi masyarakat sekitar.
Diharapkan pula kegiatan panen udang ini merupakan bentuk sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengenal cara budidaya dengan teknologi baru yang ramah lingkungan dengan biaya yang lebih murah dan hasil yang lebih banyak dan berkualitas.

(sumber: inilah)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan