Perairan Tarakan Sepi Ikan Karena Over Fishing

DKP Kota Tarakan mengakui bahwa potensi ikan tangkap di Tarakan mulai berkurang seiring meningkatnya jumlah nelayan yang mencari ikan di perairan tarakan. Peningkatan nelayan yang juga disebabkan oleh peningkatan penduduk di Tarakan merupakan salah satu penyebab peningkatan penangkapan ikan yang tidak ada pembatasan volume penangkapan di perairan Tarakan. Disebutkan Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya pada DKP Kota Tarakan, Ir Nurmayanti MSi, pihaknya secara pribadi akan melakukan analisa terkait berkurangnya potensi ikan di Tarakan.

Dituturkan Maya, sapaan akrab Nurmayanti, tak ada zona-zona khusus penangkapan bagi nelayan yang ada di Tarakan. Hampir seluruh perairan di Tarakan menjadi lokasi pemburuan nelayan untuk mencari ikan. “Para nelayan ini ‘kan mencari ikan seluruhnya tidak lebih dari 2 mil. Nah, kalau ditanya zona mana saja yang dipakai, seluruhnya memang zona penangkapan ikan, tetapi mereka hanya mencari ikan tidak lebih dari 2 mil,” terang Maya, belum lama ini.

“Saya perkirakan, saat ini sudah ada lebih 4 ribu nelayan tangkap di Tarakan, yang 95 persennya merupakan nelayan kecil yang beroperasi di Zona II perairan Tarakan. Dan, hanya sekira 18 kapal nelayan berkapasitas diatas 10 GT (Gross Tonage) yang mampu beroperasi diatas wilayah itu,” imbuhnya

Kepada media ini ia mengaku, kegiatan mencari ikan yang tidak ada pembatasannya (over fishing) inilah yang kemungkinan besar menjadikan potensi ikan semakin berkurang. Terlebih jika nelayan hanya mencari ikan di tempat yang sama setiap harinya. Selain populasi ikan yang semakin berkurang, ternyata ukuran ikan yang semula memiliki bentuk yang panjang dan besar kini mengalami penyusutan.

Ambil contoh adalah Ikan Pepija. Di dekade 90-an, ikan jenis ini cukup banyak dan memiliki ukuran besar dan panjang, namun saat ini perubahan sangat jelas. Ikan Pepija semakin kecil dan ukuran panjang ikan tersebut tak sepanjang pada saat itu. “Saat ini dari hasil penelitian beberapa mahasiswa yang pernah melakukan penelitian, ukuran ikan ini semakin mengecil dan berkurang, dari panjang dan besarnya,” urai Maya. Jenis ikan pepija sendiri merupakan ikan musiman yang notabene penangkapannya hanya dilakukan pada saat dan waktu-waktu tertentu saja.

Sedangkan banyak nelayan yang secara terus-menerus melakukan penangkapan dan tidak ada jeda waktu yang diberikan untuk ikan ini tumbuh dengan normalnya. Sehingga yang terjadi adalah perubahan dari segi populasi dan ukuran ikan tersebut. “Penangkapan dilakukan terus-terusan sehingga mengalami over fishing. Nah, kita sendiri yang ingin populasinya tetap seperti semula, tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada tempat khusus untuk konservasi. Jadi saya rasa ke depan memang harus ada tempat untuk konservasi ikan,” ungkapnya.

Konservasi inilah yang sampai saat ini belum ditemukan titik terangnya, pasalnya pihak DKP sendiri masih mencari tahu konsep seperti apa dan bagaimana yang tepat untuk melakukan konservasi ikan. Namun diakui Maya, tahun ini Pemerintah Kota Tarakan bekerjasama dengan BRKP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan) sudah melakukan kajian dan analisa untuk melihat potensi perikanan di Tarakan. “Kajian ini dilakukan berdasarkan daerah tangkapan, besarnya ikan, jenis ikan, dan kajian ini tidak hanya dilakukan dalam satu tahun dan harus berkelanjutan, sampai beberapa tahun ke depan. Karena tidak mungkin kajian hanya dilakukan hanya satu tahun,” pungkasnya.

Terpisah, Hj Junaidah, salah satu penjual Ikan yang berada di pasar Boom Panjang Kota Tarakan mengatakan dalam sebulan terakhir ketersediaan ikan di pasaran cenderung menurun. “Kami kesulitan mencari ikan yang akan kami jual, sehingga berpengaruh pada naiknya harga ikan semua jenis. Kenaikannya antara Rp 3 hingga 6 ribu per kilogram,” ungkap Hj Junaidah.

Pasokan ikan yang diperoleh pedagang di salah satu pasar tradisional di Tarakan ini, biasanya cukup berlimpah dari nelayan yang bertambat di wilayah Beringin dan Selumit Pantai. “Dalam beberapa bulan ini, pasokan dari nelayan, relatif sedikit, sehingga tidak sebanding dengan dengan permintaan di pasaran,” terangnya.

Sementara itu, Edi, salah seorang nelayan yang bermukim di wilayah Beringin turut membenarkan bahwa pasokan ikan yang diperoleh ia dan rekan-rekannya relatif berkurang. Dalam penilaiannya, hal ini dikarenakan keadaan gelombang besar yang melanda perairan Tarakan. “Hingga akhir Maret mungkin, karenanya banyak nelayan yang tak berani melaut. Ditambah lagi, kondisi air mati, petambak pun enggan memanen tambaknya,” tukasnya.

(sumber: radartarakan)

Dengan berkurangnya potensi ikan laut di perairan tarakan, akan sangat baik jika masyarakat tarakan mulai mengembangkan budidaya ikan air tawar, misalnya ikan lele, nila, bawal, gurame, patin, maupun ikan air tawar yang lain.

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan