Meski Harga Jual Fluktuatif, Budidaya Lele Tetap Prospektif

Keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan ikan lele membuat pasar ikan lele mengalami pasang surut sepanjang tahun 2015 lalu, akibatnya harga jual ikan lele menjadi naik turun. Hal ini terlihat dari data harga rata-rata ikan yang rutin dilansir oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan tiap bulan. Di lapangan sejumlah pembudidaya pun merasakan hal serupa, meski berfluktuasi setiap pembudidaya punya trik agar masih bisa meraup keuntungan.

saat panen ikan lele

Abdul Kohar, pembudidaya lele di Banyuwangi Jawa Timur menuturkan, sepanjang 2015 terjadi surut permintaan ketika menjelang puasa yang berlanjut hingga hari raya Idhul Adha. Kondisi ini menurutnya berlangsung setidak 2 – 3 bulan. Kala itu lele hanya dibanderol tak kurang dari Rp13.500 – 14ribu per kg. “Kalau dihitung-hitung rugi di tenaga saja,” keluhnya.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Ahmad, pembudidaya lele KediriJawa Timur. Ia menyatakan kondisi harga jelekberada pada awal 2015. “Harga lele saat itu mencapai Rp11 ribu – 12 ribu per kg. Kondisi ini berlangsung hampir selama 6 bulan,” terangnya. Bahkan ada pula pembudidaya di sekitar dia mengalami kerugian. Namun kondisi tersebut berangsur membaik mulai April hingga Mei 2015.

Penurunan harga lele di Kediri pada awal 2015 disinyalir lantaran banjir benih, sehingga banyak pembudidaya yang mengisi kolam secara bersamaan. Alhasil panennya pun serentak dan membanjiri stok lele di pasaran.

Soal permintaan pasar, Kohar, tidak merasakan adanya kenaikan permintaan. “Biasa-biasa saja. Hari ini pun biasa-biasa saja,” ujarnya. Ia pun mengungkapkan banyaknya pembudidaya musiman juga berpengaruh pada stok dan harga lele.

Harga Membaik

Kondisi berbeda mulai dirasakan banyak pembudidaya ketika mendekati akhir 2015. Ahmad mampu menjual lele dengan harga Rp16 ribu per kg hingga Februari 2016. Kenaikan harga menurut dia juga terjadi di Solo, Jogjakarta,dan Surabaya dengan harga yang relatif sama. “Misal di Surabaya hari ini harga lele Rp18 ribu maka di Jogjakarta juga berlaku harga yang sama,” terangnya.

Di Bogor, Bambang Cahyono pembudidaya lele di Ciseeng Bogor mengatakan,harga lele rata-rata sebesar Rp18.500 saat dikonfirmasi pada (3/2)lalu. “Belum lama lele di harga itu, jelas ada pasang surutnya. Apalagi kalau lele dari daerah Jawa masuk ke Jakarta,” sela dia.

Lele dari Jawa yang ia maksud adalah lele yang berasal dari daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa seperti Indramayu dan Cirebon. Kekhawatiran Bambang beralasan, pasalnya pasar utama lele asal Bogor adalah Ibukota Jakarta.

Bambang tidak menjual langsung lelenya ke konsumen, ia memilih menjual melalui tengkulak. Saat lele dari daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa membanjir stoknya, menurut Bambang, banyak tengkulak yang beralih membeli lele ke pembudidaya Pantura alih-alih dari Bogor. Kondisi seperti itulah yang mengakibatkan harga lele di pembudidaya Bogor bisa tertekan.

Dengan harga lele di atas Rp16 ribu per kg, Bambang mampu menikmati keuntungan yang lebih dari hasil budi daya lele miliknya. Berbeda kata ketika harga lele mencapai harga Rp15.000 per kg. Ia pun harus menekan biaya produksi agar tetap mendapat keuntungan meski tidak besar.

“Biaya produksi yang ditekan biasanya adalah pakan. Jika biasanya saya menghabiskan 30 karung pakan maka akan saya kurangi. Pakan pabrikan saya ganti sebagian dengan telur reject dari pabrik penetasan telur di sekitar Parung,” imbuhnya.

Ukuran lele konsumsi hampir seragam di berbagai daerah. Ukuran 1/8 (satu kgberisi 8ekor) hingga 1/12 (satu kgisi 12 ekor) menjadi ukuran standar untuk lele konsumsi yang dijual di pasar-pasar tradisional. “Jika lewat ukuran 1/7 sudah dikatakan lele BS. Artinya sudah lewat ukuran konsumsi dan harganya pun berbeda dari lele ukuran konsumsi,” ujar Arvian Muhammad Fish Feed Sales Supervisor PT Central Proteina prima (perusahaan pakan ikan dan udang).

Lele BS, lanjutnya pada 2014 memiliki selisih harga sebanyak Rp2 ribu per kg nya dibanding harga lele konsumsi. Namun pada 2015 selisih yang terjadi makin lebar yakni mencapai Rp4 ribu per kg nya. “Ketika harga lele konsumsi Rp18 ribu per kg, harga untuk lele BS saat ini bisa mencapai Rp14 ribu per kg. Hal ini lumrah karena pasar lele BS masih sedikit, umumnya hanya kolam-kolam pemancingan saja,” imbuhnya.

Pilihan Pasar

Lain halnya dengan di Boyolali, Jawa Tengah, harga lele berukuran 1 kg per ekor yang biasa digunakan sebagai bahan baku olahan lele oleh Eka Suprihatin, Ketua Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Mulyo bertahan di harga Rp18 ribu sepanjang 2015. Bahkan pihaknya sempat merasakan kesulitan pasokan pada musim pancing sedang ramai. “Harga ketika musim pancing bisa mencapai Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per kg per ekor lele,” keluhnya.

Namun, Kohar nampaknya lebih memilih menjual lele hasil budidaya miliknya kepada konsumen yang menginginkan ukuran satu kilogram berisi 10 – 12 ekor lele. Baginya, selisih untuk ukuran 1/8 terlalu sedikit yakni Rp1.000 – 2 ribu per kg sehingga kurang menguntungkan. Pihaknya pun lebih memilih menjual kepada konsumen lokal dari pada luar kota karena alasan keamanan transaksi.

Menurut Arvian,kebutuhan lele di Ibukota mencapai yang bisa dipasok oleh Parung. “Jika di Parung saja bisa mengeluarkan 70 ton lele per hari maka di Jakarta bisa menyerap hingga 140 ton per harinya,” terangnya.

Dari ke 60 kolam yang dikelola oleh Bambang, setidaknya saat benih mencukupi ia mampu memproduksi 3 – 4 ton ikan untuk mencukupi kebutuhan langganannya. “Sedikitnya bisa panen sebanyak 2,5 ton per dua hari,” imbuhnya.

Beda Ibukota, beda pula Boyolali. Salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang dulunya terkenal akan sapi perahnya kini telah banyak pembudidaya lele sehingga dalam sehari bisa menghasilkan setidaknya 16 – 18 ton. Wilayah pemasarannya di Boyolali sendiri maupun ke luar daerah seperti Jogjakarta, Semarang, Solo bahkan Jakarta. Begitulah keterangan yang disampaikan dari Eka Suprihatin.

Merujuk lansiran data warta pasar ikan sepanjang 2015 terlihat tren harga lele nasional berada di kisaran Rp23.924 per kg. Dengan harga rata-rata di Klaten sebesar Rp23.259 per kg, Ogan Komering Ulu sebesar Rp23.752 per kg dan Lubuk Linggau Rp24.760 per kg.

(sumber: trobos aqua)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

4 komentar untuk "Meski Harga Jual Fluktuatif, Budidaya Lele Tetap Prospektif"

  1. Abdul Rozaq says:

    Betul, di Makassar tempat kami.. budidaya ikan lele tidak ada matinya

  2. Lukmansyah says:

    3 bulan menjelang lebaran waktu yg tepat buat tebar bibit lele,,, kebutuhan lele menjelang dan saat lebaran sangat tinggi & harganya melambung

Tinggalkan Pesan