Mengenal Sejarah BBPBAT Sukabumi Lebih Dekat

BALAI Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), di Jalan Selabintana No 37, Sukabumi memiliki sejarah panjang. Tempat ini berdiri sejak masa penjajahan Belanda. Bermula dari sebuah Sekolah Pertanian yang berdiri pada 1920 yang bernama Cultuur School/Landbow School, kini tempat tersebut menjadi primadona bagi mereka yang mau belajar mengenai budidaya air tawar. Pada Jaman Jepang, lembaga ini sempat berganti nama menjadi Noo Gakko.

BBPBAT Sukabumi

Setelah mengalami beberapa perubahan nama dan fungsi, pada 1978 kawasan ini berubah menjadi Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) hingga terakhir pada tahun 2006 yang lalu, diubah kembali menjadi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT).

Dengan ketinggian 700 m diatas permukaan laut, membuat dikawasan BBPBAT udaranya cukup sejuk bahkan dingin, dengan suhu berkisar antara 20 – 27 oC. Areal yang memiliki luas 25,6 Ha terbagi atas 3 Ha Perkantoran, 7 Ha Perkolaman dan 15,6 Ha Sawah dan Kebun. Adapun sumber air utama, berasal dari Gunung Gede (S. Panjalu, S. Cipelang, S. Cisarua). Sehingga, pasokan airnya cukup melimpah dengan kondisi yang masih jernih dan sangat bagus untuk budidaya, sehingga tempat ini cocok untuk dijadikan bahan penelititan dan perkembangbiakan berbagai ikan.

Berbagai sayarat menjadikan ikan lebih bagus dan perkembangan yang menghasilkan wah, seharusnya menggunakan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Benih merupakan faktor penting dalam pemeliharaan, ketersediaan dalam jumlah yang cukup, berkualitas tinggi dan tepat waktu, termasuk dalam penggunaan benih berkualitas merupakan salah satu jaminan keberhasilan panen dan salah satu indikator untuk mengukur kualitas benih adalah laju pertumbuhan dan tingkat kematian.

“Paling utama dalam perkembangbiakan ikan ini, harus benar-benar menggunakan benih berkualitas. Benih berkualitas dihasilkan oleh hatchery (balai benih) atau pembenih (breeder) terpercaya yang menerapkan sistem produksi benih yang baik, sehat dan tidak cacat, seragam, respon terhadap pemberian pakan, bebas dari organisme penyakit dan benih yang sesuai dengan standar,” ujar Jaka Trenggana kasi informasi BBPBAT Sukabumi, kepada Radar Sukabumi, kamis (8/5).

CPIB juga merupakan standar system mutu perbenihan paling dasar/sederhana yang seharusnya diterapkan oleh pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan yang bermutu, dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan, telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan biosecurity, mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).

“Ini harus benar-benar dilakukan secara teliti, dengan mengedepankan kualitas induk dan benih, lahan, pakan. Pihak kami menyarankan, kepada para peternak ikan yang masih ragu akan cara dan teknis perkembangbiakan ikan, lebih bagus datang langsung ke Dinas setempat atau ke balai ikan dan datang langsung ke lokasi budidaya ikan, sesuaikan dengan komunitasnya,” pungkasnya.

(Sumber: http://radarsukabumi.com/?p=108158)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

4 komentar untuk "Mengenal Sejarah BBPBAT Sukabumi Lebih Dekat"

  1. Clarias sejati farm says:

    Harga indukan lele mutiara brp 1 paket ke padang mas?ada ska nya mas.trims

  2. Yunus says:

    pak bibit gurame ungul berapa ya
    tolong jawab
    posisi saya ada di kecamatan kadudampit trimakasih

Tinggalkan Pesan Untuk Yunus