Kisah Sukses Pemasok Ikan Air Tawar – Almaturidi

Tahun ini benar-benar menjadi tahun yang paling berkesan bagi Almaturidi, alumnus P4S Kubang Jaya. Dengan budidaya dan jual beli ikan nila, warga Dusun III Pulau Bayur Desa Padang Luas Kecamatan Tabang ini, bisa menyulap rumah papan reot miliknya, menjadi rumah beton seluas 70 meter persegi. Kemudian sepeda motor yang tadinya kredit, bisa segera dia lunasi. Termasuk utang dana bergulir yang ada, hal ini dapat dilakukannya setelah budidaya ikan yang ia geluti dapat berhasil.

Keberhasilan Almaturidi melakukan budidaya dan jual beli ikan nila, tak semudah yang dibayangkan.

Sebelumnya ayah tiga anak ini juga pernah merasakan nasib tak mengenakkan karena tertipu oleh dua tauke yang membeli ikan darinya, padahal modal untuk membudidayakan ikan ia dapat dari pinjaman dana bergulir Pemkab Kampar.

‘’Ada tauke yang mengambil ikan nila 75 kilogram. Per kilogram dia beli Rp15 ribu. Dia minta tenggat tiga hari untuk membayar ikan itu. Tapi sampai sekarang belum dibayar. Berikutnya ada lagi yang mengambil ikan bawal 150 kilogram. Katanya mau dibawa ke Tembilahan. Harga perkilogram Rp 14 ribu. Alhamdulillah sampai sekarang orangnya entah kemana,’’ cerita Almaturidi, di Kantor Camat Tambang.

Agustus tahun lalu, Alma lulus dari Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu.

‘’Saya mengajukan proposal pinjaman modal. Alhamdulillah disetujui Rp50 juta. Tapi saya cuma ambil Rp30 juta. Sebab sementera segitu saja sudah cukup,’’ katanya.

Tadinya Alma sama sekali tak tertarik untuk berkerambah ikan. Tapi setelah saban hari ikut menemani kakaknya ke kerambah, perlahan lelaki ini mulai tertarik.

‘’Kebetulan kakak saya punya kerambah, saya sering diajak ke sana. Ternyata enak juga. Kerjanya lebih ringan. Inilah yang membikin saya memilih jurusan perikanan saat ikut pelatihan P4S,’’ ujarnya.

Awal tahun 2013, modal Rp30 juta tadi dipakai Alma untuk membikin 2 unit kerambah. Yang satu berukuran 2,5×10 meter, sisanya 2,5×8 meter.

‘’Saya pelihara ikan nila 3.000 ekor dan bawal 4.000 ekor. Bibit nila cuma Rp 150 perekor. Lebih murah Rp 10 dibanding bibit ikan bawal,’’ katanya.

Nah, sebahagian dari hasil panen kerambah inilah yang kemudian bermasalah dengan dua orang tauke tadi. ‘’Waktu itu saya sempat kebingungan, cemas, takut. Mau saya cari dari mana uang untuk mengembalikan pinjaman modal itu,’’ ucapnya.

Dalam kebingungan, lelaki bertubuh kurus ini ngalor-ngidul lintas Danau Bingkuang-Rimbo Panjang. Capek mengendarai sepeda motor, Alma singgah di salah satu rumah makan yang ada di Danau Bingkuang.

‘’Saya lapar. Saya pesan nasi plus lauk ikan nila bakar. Melihat banyak ikan nila bakar di warung nasi itu, ide saya langsung nongol. Gimana kalau saya coba masukkan ikan nila ke warung ini,’’ ucap Alma.

Menurut Alma, ia mendekati pemilik rumah makan dan menawarkan ke pemilik warung untuk membeli ikan darinya. Gayung pun bersambut, pemilik warung bersedia membeli ikan dari Alma.

Berhasil mendapatkan seorang pelanggan, Alma lantas mencari calon pembeli lainnya dari pemilik rumah makan dan warung lainya.

Kini setiap bulan Alma bisa mengantongi untung bersih Rp10 juta.

‘’Dari keuntungan inilah saya bisa memboli rumah, bayar kredit sepeda motor dan utang. Pinjaman dana bergulir pun sudah saya lunasi dalam tempo enam bulan, meski tenggat yang diberikan Pemkab satu tahun,’’ katanya.

(sumber: riaupos.co)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan