Kebutuhan Tinggi, Produksi Ikan Budidaya Sumatra Utara Terus Ditingkatkan

Mengingat kebutuhan masyarakat dalam konsumsi ikan yang begitu tinggi di Medan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan, tidak bisa jika hanya mengandalkan dari ikan tangkapan dari laut saja. Lebih lagi, saat ini produksi ikan tangkap mengalami penurunan yang disebabkan iklim yang terus berubah. Karena itu, produksi ikan budidaya harus ditingkatkan.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Utara (Sumut), Robert Napitupulu mengatakan, penurunan hasil tangkapan ikan di laut mengalami penurunan akibat eksploitasi yang dilakukan selama ini secara besar-besaran. Hal tersebut, tidak hanya terjadi di perairan Indonesia saja, namun juga di perairan secara global. “Iklim juga memengaruhi hasil tangkapan nelayan,” katanya kepada MedanBisnis, Senin (17/6) di Medan.

Di sisi lain, katanya, konsumsi pangan ikan juga mengalami peningkatan. Hal tersebut bisa menjadi masalah jika tidak ada upaya peningkatan budidaya ikan. Sebagaimana kebijakan pemerintah sejak masanya Fadel Muhammad sebagai menteri kelautan dan perikanan RI, dengan program peningkatan produksi budidaya dan dilanjutkan dengan program industrialisasi perikanan saat ini, peningkatan produksi ikan budidaya sangat signifikan.

Ia menjelaskan, pada tahun 2008 – 2009, produksi ikan budidaya hanya berkisar antara 50.000 – 60.000 ton. Di tahun 2010 sebanyak 118.000 ton, tahun 2011 sebesar 126.000 ton. Kemudian, di tahun 2012, produksi perikanan budidaya meningkat lagi menjadi 144.000 ton.

Ia menambahkan, jenis-jenis ikan yang termasuk produk perikanan budidaya antara lain, lele, kerapu, nila, udang, gurame, ikan mas, dan patin. “Tahun 2013 ini kita menargetkan 165.000 ton,” katanya.

Menurutnya, meningkatnya produksi ikan budidaya tidak lepas dari semakin besarnya minat masyarakat membudidayakan ikan mulai dari skala pekarangan sampai kolam dan tambak.
Ia mencontohkan, pembudidayaan ikan lele saat ini sudah banyak dilakukan di masyarakat dengan menggunakan media sederhana. Begitu juga dengan pembudidayaan ikan lainnya.

Selain itu, kata dia, selama ini juga sudah banyak pembudidaya ikan yang melakukan penangkaran sehingga untuk mendapatkan bibit unggul mudah ditemukan. Misalnya di Simalungun, saat ini terdapat lebih dari 200 unit pembenihan rakyat (UPR). “Jadi untuk kebutuhan benih ikan sudah mudah, itu juga yang mendukung peningkatan produksi ikan budidaya kita,” katanya.

Namun demikian, katanya, masih terdapat kendala yakni besaran alokasi biaya untuk pakan bisa mencapai 70-80% dari biaya produksi. Hal tersebut yang membuat ketergantungan pakan ikan dari pabrik sangat besar. Sebenarnya, kata Robert, sudah ada juga pakan yang dihasilkan dari non pabrik, dengankata lain, modifikasi dari bungkil sawit sebagai bahan pakan, namun tidak signifikan. “Ketergantungan terhadap pakan pabrikan masih besar,” katanya.

(sumber: medan bisnis)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan