Industri dan Daya Saing Budidaya Ikan Patin

Di saat ongkos produksi membengkak, harga jual ikan patin justru merosot. Hal ini mengakibatkan pembudidaya ikan patin tak bergairah sehingga industri pengolahan fillet terkendala kontinuitas pasokan patin segar sesuai standar. Hasil tinjauan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Komisi Catfish Indonesia menunjukkan, kebutuhan patin hidup/segar nasional saat ini per harinya mencapai 400 – 450 ton. Angka yang sama adalah kebutuhan fillet (daging tanpa tulang) ikan patin untuk setiap bulannya. ”Kebutuhan untuk fillet saja sekitar 400 – 450 ton patin segar per bulan,” kata Saut P. Hutagalung, Direktur Jenderal P2HP (Pengolahan dan pemasaran Hasil Perikanan) KKP dalam keterangannya. Ia menambahkan target serapan pasar tahun 2014/2015 sekitar 600 – 700 ton fillet patin.

budidaya ikan patin dalam karamba

Ia melanjutkan penjelasan, serapan pasar dalam negeri terbesar berupa patin segar sekitar 75 %, dan selebihnya berupa fillet, patin asap, serta bentuk olahan lainnya. Karena itu, menurut dia, prospek usaha pengolahan patin masih menggiurkan disebabkan pasar produk olahan patin masih terbuka lebar.

Azam B. Zaidy, Sekretaris Jenderal Catfish Club Indonesia yang sekaligus Ketua Komisi Patin Indonesia memberi keterangan, usaha hilir patin khususnya fillet saat ini sudah mulai masuk skala industri seiring terus meningkatnya volume permintaan pasar dalam negeri. ”Setengah dari kebutuhan fillet patin dalam negeri disuplai 6 perusahaan pengolahan terbesar. Sisanya dari pemain lainnya, dan sebagian masih ada produk impor ilegal,” jelas Azam.

PT Indomaguro Tunas Unggul, PT Sumber Kencana Mina (SKM), PT Central Proteinaprima (CPP), PT Adib Global Food Supplies, CV Kurnia Mitra Makmur, dan PT Expravent Nasuba, adalah 6 produsen terbesar yang disebut Azam.

“Diperkirakan total volume produksi fillet patin keenam perusahaan tersebut sekitar 200 ton/bulan,” sebutnya.
Menurut Azam, jumlah kebutuhan fillet patin meningkat dan diprediksi akan terus bertambah seiring banyaknya permintaan fillet patin dari Bali. ”Kalau selama ini paling banyak di Jabodetabek saja, kini prospek pasar di Bali juga sudah mulai dilirik pengusaha pengolahan patin,” ujar Azam.

Sayangnya, kebutuhan fillet patin ini belum mampu sepenuhnya dipasok oleh industri pengolahan dalam negeri. Ia menunjuk masih banyak patin ilegal asal Vietnam yang beredar di pasaran. Padahal sejak awal 2012, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan kebijakan yang memperketat impor produk olahan patin dari negeri Paman Ho tersebut.

Ia mengeluhkan, selama ini umumnya industri pengolahan masih kesulitan secara kontinu mendapatkan pasokan bahan baku yang sesuai standar mereka. Ia menyayangkan, tak sedikit pembudidaya yang memilih panen dini patin-patinnya dengan alasan keterbatasan modal operasional, terutama untuk pembelian pakan yang kian meninggi harganya.

Terganjal Pakan

Catatan KKP menunjukkan produksi nasional patin di 2012 di angka 300 ribu ton dari target 650 ribu ton. Dan tahun ini KKP menargetkan kembali 1,1 juta ton. Direktur Produksi Budidaya KKP, Coco Cocarkin menyatakan optimismenya menembus angka tersebut.

Ia mengatakan, saat ini pembudidaya hanya mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 2.000 untuk tiap kg patin yang dihasilkan. Nilai tersebut dengan kalkulasi biaya produksi Rp 10.000/kg – Rp 11.000/kg dan harga jual Rp 12.000/kg – Rp 13.000/kg. Keuntungan yang hanya Rp 2.000/kg bahkan bisa hilang, jika harga kembali anjlok. Ini membuat pembudidaya setengah hati menjalankan usahanya. ”Idealnya harga patin Rp 14.000/kg, sehingga margin untuk pembudidaya Rp 3.000/kg – Rp 4000/kg,” ujar Azam.

Harga pakan yang tinggi menjadi sebab utama pembudidaya tidak mampu menurunkan biaya produksi. Saat ini harga pakan untuk patin di kisaran Rp 6.500 – Rp 7.000/kg. Sementara, perlu waktu yang tidak singkat untuk membudidayakan patin. Untuk mencapai patin ukuran 300 – 400 gram/ekor saja dibutuhkan setidaknya waktu sekitar 4 bulan.

Belum lagi jika pembudidaya ingin memasok kebutuhan industri fillet patin yang menuntut standar kisaran bobot 700 – 800 gram/ekorpatin. Untuk kelas ini diperlukan waktu budidaya 6 – 7 bulan. Ketidakmampuan menutupi biaya pakan inilah yang menjadi alasan pembudidaya memilih melakukan panen lebih awal di ukuran 300 – 400 gram/ekor.

Unit Pengolahan

KKP juga terus membangun unit pengolahan patin di beberapa daerah. Salahsatunya di Muaro Jambi, Unit Pengolahan Ikan (UPI) fillet patin yang bekerjasama dengan PT Indomaguro Tunas Unggul. April lalu unit ini mulai beroperasi dan mampu mengolah 5 ton ikan patin segar menjadi fillet per harinya.

Dikatakan Sahut, ada 5 lokasi percontohan lagi yang juga mendapat program serupa. Ia menyebut Kampar-Provinsi Riau, Tulung Agung-Jawa Timur, Banjar-Kalimantan Selatan, Karawang, serta Purwakarta-Jawa Barat. Ditargetkan pada 2014 dari ke lima lokasi UPI tersebut dapat memproduksi fillet patin sampai 600 ton/bulan.

(sumber: trobos)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan