Hasil Tangkapan Nelayan Sulit, Budidaya Ikan Air Tawar Menjanjikan di Medan

Hasil tangkapan nelayan yang dirasa sulit untuk didapatkan, memberi peluang sebagian penduduk di Medan dan sekitarnya untuk membuat budidaya ikan tawar seperti gurami, mas, bawal, lele, dan nila serta patin. Sulitnya mendapatkan hasil tangkapan nelayan ini karena disebabkan faktor ketersediaan bahan bakar hingga medan yang kian sulit dilalui oleh nelayan saat ini.

Hal ini yang membuat Bitner Herman Hutapea melirik budidaya ikan di daerah Tanjung Morawa sejak 35 tahun lalu. Meski awalnya ia memulai dari nol yakni dari bibit, lokasi tambak, hingga pemasaran tergolong cukup rumit, tapi karena kegigihannya akhirnya kini usahanya sudah berbuah hasil yang lumayan besar .

“Sebenarnya kalau kita tekun dalam usaha tambak atau budidaya ikan hasilnya cukup besar, karena pasarnya semakin menjanjikan mengingat kini sulitnya memperoleh ikan hasil laut,” kata Bitner pensiunan PNS Dinas Perindag Sumut.

Dari satu lokasi yang tak jauh dari tempat tinggal di Tanjung Morawa, lokasi tambaknya sudah bertambah di daerah Lubuk Pakam. Kesuksesannya itupun tak terlepas dari dukungan dari sang istri tercinta Herlince Boru Simanjuntak.

Mengenai pemasaran budidaya ikan miliknya , kini ia sudah mempunyai pasar yang tetap seperti rumah makan, restoran dan beberapa pasar ikan di sekitar kota Medan.

Selain menjual ikan kiloan yang harganya cukup bervariasi mulai dari Rp 8.000 untuk jenis ikan lele, patin Rp 14.000, ikan mas Rp 15.000, Bawal Rp 14.000, ikan nila Rp 14.000 dan gurami Rp 25.000. Di tambaknya juga menjual bibit ikan.

Untuk perawatan sehari-hari, tambaknya dibantu oleh seorang pekerja bernama Edi yang sudah berkerja enam tahun lalu. Pekerjaannya tidak begitu sulit misalnya memberi makan ikan dua kali dalam sehari yang menghabiskan 10 kilo pelet setiap pukul 7 pagi dan pukul 17.00.

Dan memberi obat agar ikan tidak terkena penyakit seperti jamur dan sebagainya. “Biasanya selain memberi vitamin ikan agar cepat besar juga diberi obat jamur jenis Bendo 2 A agar ikan tidak terjangkit jamur,”tuturnya.

Kendati hingga saat ini tambaknya tersebut tidak melakukan perkembangbiakan ikan, melainkan membeli bibit baik yang diperoleh dari daerah Sumut, juga ada yang diperoleh dari luar kota seperti ikan bawal yang dipesan langsung dari Bogor.

Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk pembesaran dan dijual kembali ke pelanggan. Sebelum dijual ikan-ikan tersebut di karantina terlebih dahulu agar kandungan lumpur hilang, meski beban kiloan ikan harus susut beberapa ons.

“Sebelum dijual biasanya kita karantina dulu agar kandungan lumpurnya hilang meski berat ikan menjadi berkurang. Tapi harganya menjadi lebih tinggi,” katanya.

Untuk produksi ikan setiap harinya, Binter menghasilkan jumlah cukup besar. Misalnya khusus untuk restoran saja ia bisa menjual sebanyak 50 kilogram untuk empat lokasi, sementara untuk permintaan pasar ikan yang jumlahnya mencapai puluhan kilo.

(sumber: medanpunya)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan