Harga Cenderung Stabil, Budidaya Ikan Patin Menjadi Primadona Baru

Budidaya ikan patin sangat melambung peminatnya dan semakin populer di kalangan pembudidaya ikan air tawar. Ikan patin sebagai komoditas budidaya air tawar saat ini tak kalah populer dibandingkan ikan lele dan gurami. Tak sedikit pembudidaya yang mulai melirik ikan yang termasuk keluarga Pangasius ini. Harganya yang cenderung lebih stabil menjadikan patin sebagai primadona baru.

prospek cerah budidaya ikan patin

Moh. Suahili, pembudidaya patin di Tulungagung menjelaskan, harga patin di pasaran memang fluktuatif, namun perubahannya tidak sekencang ikan air tawar yang lain. “Budidaya patin tidak menjanjikan keuntungan yang besar, keuntungannya sedikit tapi pasti,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Heli ini menuturkan bahawa dirinya pernah membudidayakan gurami. Sekali waktu saat panen ikan bercambuk tersebut, dia pernah menangguk keuntungan hingga 300%, namun sekali waktu juga pernah tidak untung sama sekali. “Beda dengan patin, harganya bisa dikatakan lebih ‘aman’,” jelasnya.

Teknis Budidaya

Heli mengelompokkan fase budidaya patin menjadi dua tahap, pendederan dan pembesaran. Pendederan merupakan fase saat ikan dipelihara dari ukuran 1 incihingga 3 inci, sedangkan fase pembesaran adalah pemeliharaan ikan mulai ukuran 3 incihingga ukuran panen. “Fase pendederan butuh waktu 1 bulan, sedangkan pembesarannya sekitar 6 bulan baru dipanen dengan bobot 7 ons. Tapi bisa saja dipelihara hingga 7 – 8 bulan dan dipanen dengan bobot 1 kg, tergantung pasarnya,” paparnya.

Pemilik 90 bangunan kolam permanen yang tersebar di 8 lokasi ini mengungkapkan bahwa benih patin ukuran 1 incidia perolehdari Bogor dengan harga Rp100 per ekor. Jika sudah mencapai ukuran 3 incidan ada permintaan, Heli menjualnya kembali dengan harga Rp 300 per ekor, sedangkan untuk ukuran panen dirinya membanderol Rp14.000 per kg.

Menurutnya, teknis budidaya patin tidak terlalu rumit. Penyakit pun terhitung jarang sekali terjadi. Satu hal yang membutuhkan perhatian khusus adalah program penggantian air. Di kolam miliknya, selama masa pendederan, Heli mengganti air kolam 10 hari sekali dengan volume penggantian air mencapai 60% dalam sekali waktu. “Kalau untuk fase pembesaran, penggantian airnya 2 hari sekali tapi volume air yang diganti hanya 10 – 15%,” jelas pria yang saat ini memiliki populasi 100 ribu ekor patin ini.

Lanjutnya, program penggantian air yang benar dan teratur akan meminimalisir potensi penyakit yang menginfeksi ikan. Heli yang belajar budidaya ikan secara otodidak ini memaparkan, indikasi air yang bagus untuk patin berwarna hijau, tapi tidak keruh. Jika warna airnya agak putih, bisa disebabkan karena pemberian pakan terlalu banyak sehingga pakan yang belum tercerna sempurna akan dikeluarkan oleh ikan. “Itu salah satu sebab air cepat rusak,” cetusnya.

Sulit di Awal

Untuk pemasaran patin yang di beberapa daerah dikenal dengan nama jambal ini menurut Heli cukup sulit pada mulanya karena sebagian orang masih menganggapnya baru. “Ya, diawal-awal tahun 2000 dulu masih jarang orang yang mengonsumsi patin, sekarang orang sudah mulai terbiasa,” terangnya.

Namun saat ini pemasaran ikan patin milik Heli sudah bisa menembus Surabaya dan Jakarta. “Bahkan ada yang dibeli oleh pabrik untuk diolah menjadi nugget, tempura, bakso,serta fillet,” ujarnya.

(sumber: trobos)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan