Guru di Tarakan Mulai Rambah Dunia Perikanan

Sebagai perusahaan migas nasional yang beroperasi di Pulau Tarakan, ada banyak program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT. MEDCO E&P Indonesia untuk membina masyarakat Tarakan dalam mengembangkan perekonomian. Mulai dari pengembangan SRI Organik, penggemukan dan pengembangan ternak sapi, rumah pembuatan pakan, rumah pintar, hingga mobil pintar.

Satu lagi yang dikembangkan dan dibina oleh perusahaan migas yang ada di Tarakan ini yaitu kelompok perikanan yang bernama BULEMETA (Budidaya Lele MEDCO Tarakan). Salah satu kelompok masyarakat yang menjadi mitra binaan perusahaan ini yaitu yang bernama BULEMETA (Budidaya Lele Medco Tarakan) di Mamburungan Timur telah memperlihatkan hasil yang memuaskan.

Setelah menjadi mitra binaan PT MEDCO, omzet yang didapat cukup menjajikan. Cepi Komara petani asal setempat yang mengelola budidaya ikan air tawar ini, mengaku sebelumnya memang diberikan pembelajaran oleh PT MEDCO, yang dimulai awal Februari 2012, yaitu dengan cara membuat kolam, mengkultur air melalui metoda yang ramah lingkungan, pemilihan bibit serta budidaya kurang lebih selama 3 bulan. Ayah dari 4 orang anak ini mengaku secara kuantitas, bulan ini (Mei 2013) ia mendapatkan keuntungan sebesar Rp1.100.000.

“Dalam satu tahun ini, aset yang diperoleh sebesar Rp25 juta,” terangnya saat penulis temui pada Minggu 5 Mei 2013 lalu.

Cepi Komara pria kelahiran Jakarta ini memiliki 5 keramba yang berisikan ikan ikan air tawar yang di budidayakannya. Tiap keramba memiliki kedalaman 60 sampai 80 cm yang ukurannya 5 x 10m.

“Tidak terlalu dalam sih, tapi handphone saya pernah kecebur di keramba itu”, tuturnya sambil sesekali mengambil kotoran yang ada di kolam. Selain membudidayakan ikan lele Cepi juga menjadi guru matematika di sekolah di dekat lokasi pembudidayaannya. Dia merambah usaha budidaya ikan air tawar ini setelah ia melihat potensi yang ada di lingkungan pesantren.

Kebetulan Pria 36 tahun ini membudidayakan 2 ikan saja, yakni ikan lele dan ikan patin. Sebelumnya ia pernah membudidayakan ikan nila, tetapi parahnya ia merugi karena ikan nila berbeda dengan ikan patin dan ikan lele. “Ikan lele dan patin itu berlendir sementara ikan nila nggak suka lendir” Terangnya.

Awalnya dirasa sangat sulit yaitu terutama dalam problematika masalah bibit dan pakan namun setelah mendapat ilmu dan pendampingan langsung di lapangan terus menerus tahap demi tahap oleh PT MEDCO, Cepi dan petani budidaya ikan air tawar mengaku beruntung sekali, dengan omset penjualan ikan yang besarnya hingga Rp25 juta, ia dapat menghidupi keluarganya, dan mengalokasikan dana ke pesantren dekat tempat ia tinggal.

Manfaat yang diperoleh petani dalam pengembangan perikanan lele ini adalah yang pertama, petani mendapatkan ilmu tentang budidaya ikan air tawar. Kedua, kemudahan untuk mengakses bibit karena pemijahan dilakukan oleh kelompok sendiri sehingga tidak perlu mendatangkan dan menunggu lagi bibit dari Pulau Jawa. Ketiga adalah berupa kemudahan dalam pemasaran. Dan yang keempat meningkatnya produksi panen dan tentunya penghasilan petani ikan air tawar bertambah.

PT MEDCO tidak hanya hanya memberi teori tetapi para petani juga diajak berpikir aktif dan serius agar problematika yang kerap muncul di dunia perikanan dapat teratasi oleh usaha keras mereka sendiri. Cepi yang giat lagi pantang menyerah ini, optimis bahwa pembudidayaan ikan air tawar ini akan betul-betul menjadi percontohan bagi para petani ikan air tawar lainnya. Sebab sudah terbukti di tiap masa panen. Kualitasnya pun juga sudah terbukti. Karena sebagian besar potensi lahan pembudidayaan yang dikelola dengan baik, memperlihatkan hasil yang baik juga. Pada musim panen biasanya Cepi dibantu oleh anak-anak pesantren setempat.

“Kalau masalah memberi pakan itu gampang, jadi saya saja sendiri,” ujarnya. Pada pembersihan keramba-keramba budidaya Cepi biasanya dibantu oleh rekannya.

Lantaran itu pula, menurut Cepi pemberian pakan sangatlah penting dalam pembudidayaan ikan air tawar. Secara keseluruhan keramba-kerambanya membutuhkan kurang lebih 30 kg setiap harinya dengan harga Rp235 ribu. Dengan dua model yaitu terapung dan tenggelam.

“Tenggelam itu yang organik,” Tuturnya. Dalam budidaya ikan air tawar biaya produksi untuk bahan pakan adalah sekitar 30 sampai 40 persen organik, dan sisanya pabrik. Pada saat ini Cepi sudah ada pelanggan tetap. Dalam satu pekan pelanggannya biasa membeli 20 kilo ikan air tawar miliknya.

Petani ikan air tawar ini berbagi tips tentang merawat atau membudidayakan ikan air tawar. Caranya mudah, jangan memberi makan sesudah hujan, karena bisa menyebabkan gembung dan lebih parahnya lagi ikan bisa mati. Hal ini sangatlah merugikan petani ikan air tawar.

“Biasanya satu sampai sepuluh ikan bisa mati kalau petani tidak bisa mengatasi problem ini.” Jelasnya. Selain itu juga sirkulasi air perlu diperhatikan, jangan membiarkan air berlumut atau berjamur, karena hal tersebut dapat membuat ikan menjadi cepat mati. Pembersihan dilakukan 3 bulan sekali, ini untuk meminimalisir bakteri-bakteri yang ada di air keramba.

Untuk proses penyulingan air tidaklah terlalu rumit karena sarana yang digunakan Cepi adalah mata air dari perbukitan yang tentunya bebas dari kontaminasi polusi air dan bahan kimia dan sangat ekonomis.
Cepi sangat menyukai ikan, membudidayakan ikan sudah dianggap sebagai hobinya selain itu juga sebagai pendapatan sambilannya. Ayah dari 4 anak ini sangat senang sekali bahwa usaha yang selama ini dia gandrungi menjadi berhasil berkat kerjasama dengan PT MEDCO.

Sekarang Cepi mampu menghidupi keluarga besarnya, yang terdiri dari 1 orang istri yang bernama Aida Aisyah, dan 3 putri yang masih duduk di bangku sekolah dasar, serta 1 putri lagi yang baru masuk TK. Selain itu pria kelahiran tahun 1976 ini juga mengalokasikan dana dari hasil pembudidayaan ikan air tawar ke sejumlah pesantren dekat ia tinggal. Dengan omset penjualan ikan saat panen hingga Rp25 juta, kini Cepi mantap untuk terus menekuni usaha budidaya ikan air tawar dengan tentu saja tetap mengajar di sekolah.

Kulitnya yang legam terbakar matahari tidak menjadi persoalan baginya. Yang terpenting adalah bagaimana dia menghidupi dan membahagiakan keluarganya serta orang-orang di sekitarnya.

Keuntungan yang didapatkan setelah menjadi mitra binaan PT MEDCO adalah biaya produksi menjadi dapat diminimalkan atau modal yang dikeluarkan kecil. Karena pembelajarannya MEDCO mengajarkan untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam (bahan-bahan organik yang ada). Karena mulai proses pembuatan kolam dan pengkulturan air menggunakan bahan organik maka kualitas menjadi lebih baik dan produksi meningkat. Hal ini sangat membantu masyarakat petani perikanan. Latar belakang dilaksanakan program-program ini karena usaha-usaha yang dilakukan PT MEDCO ini adalah upaya untuk membangun negeri tercinta ini: Indonesia.

(sumber: radartarakan)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan