Cegah Udang Panen Dini Dengan Deteksi Penyakit Dini

Penyakit EMS memang menjadi kendala yang sering menyulitkan dalam budidaya udang di dunia. Sistem cluster dengan satu manajemen bersama, dibarengi biosekuriti ketat, deteksi dini penyakit dan penerapan CBIB, efektif mencegah dan mengendalikan penyakit pada udang.

deteksi penyakit dini budidaya udang

Sekretaris Jenderal Shrimp Club Indonesia (SCI) daerah Jawa Barat-Banten menandaskan, deteksi dini penyakit di suatu wilayah dimulai setidaknya dengan adanya komunikasi antar petambak dalam satu blok atau satu jalur air. “Saling memberikan informasi mengenai kemunculan penyakit, waktu buang air panen, dan waktu pengambilan air,” terang Dedi. Sistem ini sudah berjalan di daerahnya, dan sejauh ini ia mengaku tidak ada masalah penyakit. Disiplin dan kekompakkan dari semua petambak, tandas dia, menjadi penting. Dan untuk itu diperlukan koordinasi dan komunikasi secara rutin.

Andi Tamsil, Sekretaris Jenderal Shrimp Club Indonesia (SCI) menggambarkan, usaha tambak udang itu unik dan berbeda dengan bisnis lain. Alih-alih bersaing, antar tambak harus saling jaga,dan saling membantu. “Prinsip dalam bertambak, kalau mau selamat maka yang sebelah harus selamat,” ujarnya di sela-sela acara Forum Inovasi dan Teknologi Akuakultur (FITA) 2013 di Lombok (12/6). Saling terbuka menjadi keharusan. Tak hanya jadwal panen, kemunculan kasus penyakit di tambak pun mutlak diinformasikan kepada tetangga.

Cluster vs Penyakit

Penyakit, tengah menjadi isu sentral dunia perudangan. Bagaimana menjadikan bisnis ini berkelanjutan. Terlebih, perudangan dunia tengah dibuat “galau” akan wabah Early Mortality Syndrome(EMS) yang melanda Thailand dan Vietnam. Menjadi keharusan bagi pelaku perudangan Indonesia untuk waspada, dan melakukan segala upaya agar terproteksi dari ancaman EMS. Pengetatan biosekuriti, deteksi dini penyakit dan penerapan cara-cara budidaya yang baik menjadi tuntutan tak terelakkan.

Dan sistem cluster dengan satu manajemen bersama sangat berguna bagi pencegahan dan pengendalian penyakit, sertaakan mengoptimalkan hasil panen. Sistemini menjadikan pengawasan lebih mudah. Setiap anggota kelompok saling kontrol, dan menjadi lebih sistematis karena memiliki struktur organisasi, seperti adanya manajer administrasi, manajer teknis, dan tenaga teknis lainnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan & Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto mengistilahkan pengelolaan air secara berkelompok ini dengan real closed system alias sistem tertutup. Satucluster menganut satu manajemen kelompok yang sama, meliputi pembuangan air, limbah, pemasukan air dan sebagainya.

Air dikelola sehingga menjadi air yang layak sebagai media budidaya. Menurut Slamet Soebjakto, penerapan real closed system bernilai blue economies, tidak hanya meningkatkan pendapatan, tanpa limbah, tapi juga efisiensi. “Selain itu, signifikan menekan risiko penyakit,” ujarnya. Totok –demikian ia biasa disapa— menunjuk bukti, tambak percontohan di Pantura (pantai utara Jawa) sukses produktif karena penerapan closed system. “Awalnya banyak yang pesimis karena Pantura diistilahkan ‘neraka’-nya udang dengan padatnya industri dan pabrik,” kata Totok.

Maskur, Direktur Kesehatan dan Lingkungan, Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) menambahkan keterangan, tambak percontohan (demfarm) merupakan kegiatan budidaya udang dengan menerapkan teknologi maju yang dikelola dengan sistem cluster, hasil kerjasama DJPB dengan pembudidaya, pabrik pakan, dan perbankan. Produktivitas tambak pun meningkat. Pada 2012 telah dikembangkan demfarm seluas 1.000 ha di Jawa Barat serta Banten, dan di 2013 akan dikembangkan lagi di 6 provinsi (Jawa Tengah,Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Lampung,dan Sumatera Utara).

Karantina & Monitoring

Menyoal deteksi dini penyakit dan pencegahan masuknya penyakit, Tamsil menyebut 2 pintu. Satu pintu ada di karantina. Karantina adalah garda depan dan benteng utama deteksi dini penyakit, terutama bibit penyakit yang dibawa benih udang. Karantina di bandara dan pelabuhan baik antar negara maupun antar pulau, harus tegas tidak boleh meloloskan benih udang yang dilalulintaskan tanpa surat keterangan resmi bebas penyakit. “Idealnya setiap daerah punya peraturan daerah yang mengatur ini,” ujarnya mengurai asa.

Totok membenarkan perlunya pengetatan lalulintas dalam dan luar negeri. Untuk benih impor, pemerintah sampai sekarang melarang benih asal beberapa negara dalam rangka pencegahan masuknya penyakit, khususnya EMS. “Kita tidak akan mengizinkan induk dari Thailand maupun Vietnam,” tegas Slamet.

Kombinasi Teori & Praktik

Untuk deteksi penyakit secara dini di level tambak, petambak membutuhkan kombinasi ilmu teori dan ilmu praktek. Ini disampaikan Hanung Hernadi, Ketua FKPA (Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur) Lampung. Menurut dia, pembacaan secara visual dan gerak-gerik udang biasanya dikuasai petambak.

Semisal kelainan warna tubuh, adanya bintik, adanya lumut, sampai fenomena udang mengambang di permukaan dapat ditengarai. “Udang sebagai hewan noktural, di siang hari berada di dasar tambak. Bila sampai udang naik ke permukaan di siang hari pasti ada yang salah,” tambahnya. Tetapi monitoring visual saja tidak cukup, dibutuhkan fasilitas pendukung untuk mendeteksi lebih dini sebelum gejala muncul secara mencolok.

Peran pemerintah dalam penyediaan fasilitas laboratorium yang memadai menjadi tuntutan. Pemerintah juga memiliki banyak ahli yang mampu memberikan dukungan ilmu dan teknologi. Karena itu Hanung menyambut baik niat pemerintah membuat program laboratorium keliling yang bertugas memberikan layanan monitoring bagi petambak.

(sumber: trobos)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan