Cara Pemeliharaan Telur dan Larva Ikan Lele

Induk ikan lele yang telah memijah akan mengeluarkan telurnya pada keesokan harinya. Stadia telur merupakan output dari aktivitas pemijahan ikan, dimana pada saat menetas berubah menjadi stadia larva. Telur ikan lele bersifat melekat (adesif) kuat pada substrat, karena telur ikan lele tersebut memiliki lapisan pelekat pada dinding cangkangnya dan akan menjadi aktif ketika terjadi kontak dengan air, sehingga dapat menjadi rusak/koyak ketika dicoba untuk dicabut. Kekuatan pelekatan tersebut akan menjadi berkurang sejalan dengan perkembangan telur (embriogenesis) hingga menetas. Oleh karena itu, untuk mengurangi faktor kerusakan/kegagalan telur dalam proses penetasan, induk ikan lele yang telah memijah diangkat dan dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan induk kembali.

pemeliharaan larva ikan lele

Telur- telur ikan lele yang telah terbuahi ditandai dengan warna telur kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur-telur yang tidak terbuahi berwarna putih pucat atau putih susu. Lama waktu perkembangan hingga telur menetas menjadi larva tergantung pada jenis ikan dan suhu. Pada ikan lele, membutuhkan waktu 18-24 jam dari saat pemijahan.

Penyesuaian Kondisi Suhu

Selain oksigen, faktor kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan penetasan telur adalah suhu. Sampai batas tertentu, semakin tinggi suhu air media penetasan telur maka waktu penetasan menjadi semakin singkat. Akan tetapi, telur menghendaki suhu tertentu (suhu optimal) yang memberikan efisiensi pemanfaatan kuning telur yang maksimal, sehingga ketika telur menetas diperoleh larva yang berukuran lebih besar dengan kelengkapan organ yang lebih baik dan dengan kondisi kuning telur yang masih besar. Pada ikan lele, suhu optimum yang baik untuk penetasan telur adalah sekitar 29-31o C.

Penyediaan Oksigen Terlarut

Selama proses penetasannya, telur-telur tersebut membutuhkan suplai oksigen yang cukup. Oksigen tersebut masuk ke dalam telur secara difusi melalui lapisan permukaan cangkang telur. Kebutuhan oksigen optimum untuk kegiatan penetasan telur ikan lele adalah > 5 mg/L. Oksigen tersebut dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu (1) memberikan aerasi dengan bantuan aerator; (2) menciptakan arus laminar dalam media penetasan telur; (3) mendekatkan telur kepermukaan air, karena kandungan oksigen paling tinggi berada dibagian paling dekat dengan permukaan air. Selain oksigen, untuk keperluan perkembangan, diperlukan energy yang berasal dari kuning telur (yolk sac) dan kemudian butir minyak (oil globule). Oleh karena itu, kuning telur terus menyusut sejalan dengan perkembangan embrio. Energi yang terdapat dalam kuning telur berpindah ke organ tubuh embrio.

Pencegahan Serangan Penyakit pada Telur

Telur- telur ikan lele akan menetas dalam waktu 18-24 jam setelah pemijahan terjadi. Embrio terus berkembang dan membesar sehingga rongga telur menjadi sesak olehnya dan bahkan tidak sanggup lagi mewadahinya, maka dengan kekuatan pukulan dari dalam oleh pangkal sirip ekor, cangkang telur pecah dan embrio lepas dari kungkungan menjadi larva. Pada saat itu telur menetas menjadi larva. Untuk memperlancar proses penetasan, air sebagai media penetasan telur diusahakan terbebas dari mikroorganisme melalui beberapa upaya, yaitu (1) mengendapkan air untuk media penetasan telur selama 3-7 hari sebelum digunakan; (2) menambahkan zat antijamur seperti methylen blue, kedalam media penetasan; (3) menyaring dan menyinari air yang akan digunakan untuk penetasan dengan menggunakan sinar ultraviolet (UV); (4) menggunakan air yang bersumber dari mata air atau sumur. Setelah semua telur menetas, maka untuk menghindari adanya penyakit akibat pembusukan telur yang tidak menetas, kakaban/substrat tempat pelekatan telur ikan lele diangkat dari wadah penetasan dan untuk memperbaiki kualitas air pemeliharaan larva, maka dilakukan pergantian air sebanyak ¾ dari volume wadah. Pergantian air dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi air menjadi baik, sehingga layak dijadikan sebagai media pemeliharaan larva.

Pengelolaan Kualitas Air Larva

Larva yang telah menetas biasanya berwarna hijau dan berkumpul didasar bak penetasan. Untuk menjaga kualitas air, maka sebaiknya selama pemeliharaan dilakukan pergantian air setiap 2 hari sekali sebanyak 50-70 %. Pergantian air ini dimaksudkan untuk membuang kotoran, seperti sisa cangkang telur atau telur yang tidak menetas dan mati. Kotoran-kotoran tersebut apabila tidak dibuang akan mengendap dan membusuk di dasar perairan yang menyebabkan timbulnya penyakit dan menyerang larva. Pembuangan kotoran tersebut dilakukan secara hati-hati agar larva tidak stress atau tidak ikut terbuang bersama kotoran.

Pemberian Pakan Larva

Larva ikan lele hasil penetasan memiliki bobot minimal 0,05 gram dan panjang tubuh 0,75-1 cm, serta belum memiliki bentuk morfologi yang definitif (seperti induknya). Larva tersebut masih membawa cadangan makanan dalam bentuk kuning telur dan butir minyak. Cadangan makanan tersebut dimanfaatkan untuk proses perkembangan organ tubuh, khususnya untuk keperluan pemangsaan (feeding), seperti sirip, mulut, mata dan saluran pencernaan. Kuning telur tersebut biasanya akan habis dalam waktu 3 hari, sejalan dengan proses perkembangan organ tubuh larva. Oleh karena itu, larva ikan lele baru akan diberi pakan setelah umur 4 hari (saat cadangan makanan didalam tubuhnya habis). Pakan yang diberikan berupa pakan yang memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva agar larva ikan lebih mudah dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan, pakan ikan juga bergerak sehingga mudah dideteksi dan dimangsa oleh larva, mudah dicerna dan mengandung nutrisi yang tinggi. Salah satu contoh pakan yang diberikan pada saat larva ikan lele tersebut berumur 4 hari adalah emulsi kuning telur. Pada saat lele berumur 6 hari, maka dapat diberikan pakan berupa Daphnia sp (kutu air), Tubifex sp (cacing sutra) atau Artemia sp. Pakan tersebut diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 5 kali dalam sehari dan agar tidak mengotori air pemeliharaan, maka diusahakan tidak ada pakan yang tersisa.

Jadwal Pemberian Pakan Larva Lele

  • Emulsi kuning telur: Hari ke 4-5
  • Artemia sp: Hari ke 6-13
  • Daphnia sp: Hari 12-17
  • Tubifex sp: Hari 17-21
analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

30 komentar untuk "Cara Pemeliharaan Telur dan Larva Ikan Lele"

  1. rizal says:

    Apakah larva ikan dapat diperilahara dikolam semen? Karna pada umumnya rata-rata dipelihara di aquarium / ember

  2. rahmat surya says:

    Alhamdulillah, tulisan yang bagus dan menambah wawasan

  3. sugeng mulyadi says:

    Terima kasih sudah diizinkan untuk membaca artikel ini, banyak manfaat untuk saya dan kelompok di tempat saya sebagai pemula pada proses pembenihan, thanks

  4. FAKHRUROZI YUSHEL says:

    ASS. SAYA MENCOBA UNTUK USAHA PEMBIBITAN LELE, TAPI PADA PERCOBAAN PERTAMA INDUKAN LELE MENGELUARKAN TELUR TAPI SUDAH TIGA HARI TELUR TIDAK MENJADI LARVA, APA SOLUSI DAN APA PENYEBAB TERJADINYA KEGAGALAN INI… TRIMS

  5. eriyanto says:

    tadi padda pemberian pakan 6_7 diberikan artemia… apa itu tidak terlalu berlebihan pak… cos harganya kan lebih mahal… apa ada solusi lain?

  6. sahnudin nurhasan says:

    Maaf pak saya mau tanya kalau usia lele berumur 4 hari jika diberi cacing sutera baik apa tidak??
    Soalnya pas saya mencoba usia lele 4 hari diberi cacing makannya pada berlebihan sehingga mengakibatkan perutnya pada kembung dan seperti pada mau meledak dan jika harus diberi kutu air.ditempat saya sulit untuk mendapatkannya
    jika diberi cacing isi perut lelenya seperti mau meledak..kalau seperti itu solusi terbaiknya seperti apa??
    Terima kasih..

    • Surya Mina says:

      Saya kira karakter lele yg sehat memang seperti itu pak, makannya rakus. Seperti meledak pun masih aman kalo pakannya cacing sutra, ndak masalah umur 4 hari dikasih casut.

  7. Yusuf says:

    Makan larfanya boleh kasih telur ga mas

  8. Agus riyanto says:

    Kenapa larva kembung padahal casut tak telat,,dan apa obatnya gan?

  9. susanto says:

    bagai mana cara ganti air saat larva baru menwtas?

  10. wahyudin says:

    Saya mau tanya pak gimana cara menurunkan ph air pada kolam (8,5) soalnya setiap saya memijahkan lele gak menetas,pernah menetas juga tetep mati mohon solusi nya pak terimakasi

  11. rudi arifin says:

    apakah larva umur 4 hari sudah bisa di kasih fengi 0 pak

  12. Barye says:

    Mau tanya pak,,
    selain casut apa pengganti nya untuk pakan larva lele?
    Truz biasanya kalau larva umur 20 hari sdh Ukuran brapa?

    Trma ksih,,,!

  13. Barye says:

    Mau tanya pak,,
    selain casut apa pengganti nya untuk pakan larva lele?
    Truz biasanya kalau larva umur 20 hari sdh Ukuran brapa?

    Trma ksih,,,!

  14. wahyudin says:

    Menyambung dari pertanyaan saya diatas untuk mencari ph down di tempat saya sulit pak tpi saya mendapatkan masukan bahwa air aki zuur juga bisa untuk menurunkan ph air apakah info ini bisa digunakan pak?

  15. Wahyudin says:

    Belum sh pak tpi pernah saya tes ke air yg ber ph 8,5 memang turun cepet cuman untuk saya coba ke larva lele blum dicoba pak

  16. Wang says:

    mau tanya pak,apakah bisa larva lele di beri pakan berupa kuning telur sampai bisa makan pakan nano 1 ?

  17. Havid says:

    Mau tanya pak, saya mijahin lele usia indukanya udah 2thn lebih. Pas mau di pijah gonat yang betina sama yang jatan udah merah tp pas telur udah jadi larva2nya pada mati knpa ya pak ?

  18. aryluis says:

    Mau tanya pak,
    Ini saya pemula pak, 1 bulan kemarin saya memijahkan lele alhamdulillah netas banyak tapi waktu pergantian cacing sutra ke fampro kok banyak yg mati ya pak? Sekarang tinggal 15ribuan ekor kalo gak salah, kenapa ya pak kok bisa seperti itu? Padahal dari awal prosedur sudah dilakuin, air juga diganti terus, sisa makan jg bersih

Tinggalkan Pesan