Budidaya Udang Metode Busmetik, Panen 3 Kali Setahun

Teknologi Busmetik dalam budidaya udang mampu memproduksi udang lebih maksimal, metode Busmetik atau Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik ini dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Serang, Banten misalnya, penerapan teknologi ini mampu memanen udang 3 kali dalam setahun dengan keuntungan mencapai 58%.

budidaya udang metode busmetik

“Teknologi ini perlu diperluas pengembangannya, tidak hanya di sekolah kelautan perikanan lingkup KKP juga kemasyarakat lainnya, dengan tentu saja pelaksanaannya harus bersinergi dengan unit kerja teknis,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo dalam pers rilis yang diterima GATRAnews, Senen (2/12).

Sharif yang datang saat panen udang berlangsung juga menjelaskan, Busmetik merupakan inovasi teknologi budidaya udang melalui kajian ilmiah yang terukur. Teknologi ini merupakan cara budidaya baru yang ramah lingkungan dengan biaya lebih murah dengan menggunakan lahan lebih kecil sekitar 1 petak 600 m2, masa panen lebih singkat yakni 3 siklus per tahun dengan hasil lebih banyak dan berkualitas.

Untuk itu tambak sistem Busmetik perlu diperluas pengembangannya, tidak hanya di sekolah lingkup KKP, namun juga ke masyarakat lainnya dan pelaksanaan bersinergi dengan unit kerja teknis. “Teknologi Busmetik juga telah diterapkan di daerah lain seperti di Pacitan yang ditinjau langsung oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono,” ujarnya.

Mutu SDM dan kreatifitas dalam mengembangkan teknologi, sambungnya, sangat relevan pada saat ini mengingat pada 2015 nanti akan diberlakukannya komunitas ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC). Pasar bebas di dunia tenaga kerja mendorong setiap elemen bangsa agar punya kompetensi dibidangnya.

Salah satu kunci untuk mencapai hal tersebut adalah menanamkan jiwa entrepreneurship kepada setiap taruna agar mereka bisa menggabungkannya dengan kemampuan penguasaan teknis di sektor kelautan dan perikanan yang telah didapatkan selama mengikuti pendidikan di bangku kuliah.

“Penggabungan dengan kemampuan teknis tersebut oleh para pakar disebut sebagai technopreneurship, yang akan menghasilkan inovasi-inovasi dalam kegiatan ekonomi kelautan dan perikanan. Kemampuan technopreneurship ini tentu saja harus dipupuk sejak awal mengikuti pendidikan,” pungkas dia.

(Sumber : kkp)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan