Budidaya Ikan Patin Kolam Terpal Menjadi Andalan Warga Kecamatan Plupuh, Sragen

Dalam rangka membangun kemandirian ekonomi, bermodalkan media kolam dari kain terpal, kelompok tani Ngudi Rejeki Desa Jembangan, Kecamatan Plupuh, Sragen, mengembangkan ikan patin yang prospeknya cukup menjanjikan.

Budidaya ikan patin tidak beda jauh dengan budidaya ikan lele. Hanya saja, kualitas air perlu lebih dijaga agar tidak terlalu keruh. Suranto (35) salah satu warga setempat menuturkan, warga memanfaatkan air dari Pamsimas untuk budidaya ikan patin. Air dari Pamsimas selama ini hanya sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum dan MCK. “Selain untuk pembibitan, kami juga melakukan pembesaran ikan patin,” ujarnya.

budidaya ikan patin kolam terpal

Menurut Suranto, budidaya ikan patin cukup menjanjikan dalam rangka meningkatkan perekonomian warga. Saat ini harga ikan patin di pasaran mencapai Rp 14 ribu perkilogram, sedang untuk ikan lele harganya Rp 12 ribu perkilogram. “Hasilnya cukup lumayan dan sudah kami setor ke berbagai daerah di Soloraya,” jelasnya.

Ditambahkan Wagiyo, pemilik kolam patin lainnya, budidaya ikan patin dikembangkan dengan membuat kolam ukuran 2 x 3 meter dengan menggunakan bahan terpal. Dengan ukuran yang sederhana itu mampu menampung benih ikan patin sampai 200 ekor. Jika dihitung mulai dari bibit, ikan patin bisa dipanen pada bulan keenam. Namun untuk usaha pembesaran dalam hitungan tiga sampai empat bulan sudah dapat dipanen. “Satu ekor ikan patin minimal bisa mencapai 6 hingga 7 ons, tapi jika dibudidayakan lebih lama, berat ikan semakin bertambah,” tandasnya.

Wagiyo berharap budidaya ikan patin ini bisa membuat warga di tempatnya tinggal tertarik untuk mengembangkan ikan yang sama. Dengan demikian, nantinya daerah Plupuh Sragen akan dikenal menjadi sentra penghasil ikan patin. “Kami berharap suatu saat nanti Sragen dikenal sebagai sentra penghasil ikan patin,” tambahnya.

(Sumber : KR Jogja)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan