Budidaya Ikan Patin di Kolam Dalam

Seiring meningkatnya permintaan komoditi ikan patin khususnya untuk industri pengolahan, belum mampu dipenuhi oleh produksi dari hasil budidaya. Ditambah lagi kualitas daging patin nasional yang dihasilkan untuk produk fillet (daging tanpa tulang) dinilai pihak industri pengolahan masih kalah bagus dengan produk dari Vietnam.

Dengan metode budidaya ikan patin di kolam dalam, dapat meningkatkan produksi 2 kali lipat serta memperbaiki kualitas daging sesuai standar pabrik pengolahan.

Guna menjawab tantang tersebut, Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan, sejak 2011 menerapkan teknologi budidaya patin di kolam dalam. Menurut Kepala BLUPPB, Karawang,Supriyadi, tujuan utaman pengaplikasian metode ini adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas fillet patin.

Keunggulan Kolam Dalam

Supriyadi menjelaskan, pemeliharaan patin di kolam dalam merupakanmengadaptasi metode budidaya di Vietnam. Keunggulan metode ini antara lain mencegah daging patin berbau lumpur, karena sifat patin makan dibawa kedasar lumpur, dengan kolam yang dalam jadi pakan itu cepat langsung ke mulutnya. “Jika kolam tidak dalam maka lumpur termakan,” jelasnya.

Dijelaskan, Ditambahkan Wisnu Adianto, Penanggung Jawab Budidaya Patin di BLUPPB Karawang, metode budidaya patin kolam dalam ini dapat meningkatkan produktivitas sebanyak 2 kali lipat dibandingkan budidaya patin pada kolam biasa dengan luasan area kolam yang sama. Serta kualitas daging patin pada kolam dalam, lebih diterima oleh unit pengolahan ikan (coldstorage). “Hal ini karena daging patin lebih putih dibandingkan daging patin yang dipelihara pada kolam biasa yang cenderung kuning,” ungkapnya.

Terkait kualitas, Arie Rahman Manajer Operasional PT Adib Global Supplier Seafood, Unit Pengolahan Ikan di Karawang yang menggunakan fillet patin hasil metode kolam dalam menuturkan, kualitas patin yang dipelihara dengan metode kolam dalam warna dagingnya putih kemerahan atau cenderung merah jambu.

Menurut Arie, faktor yang mempengaruhi warna daging ikan patin yaitu, pakan, pemeliharaan air,dan jenis ikan. Pemeliharaan patin di BLUPPB menggunakan full feeding (menggunakan pakan pabrikan) dan pengaturan airnya lebih bagus dibandingkan daerah lain. “Kalau didaerah lain airnya sudah tercemar dan tidak sepenuhnya pakan pabrikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pembudidaya patin di daerah Jawa Barat memang banyak, tetapi tidak semuanya bisa digunakan untuk fillet. “Mereka memakai pakan alternatif seperti hasil sisa catering atau roti yang sudah kadaluarsa. Itulah yang membuat kualitasdagingpatin tidak seusai standar pabrik,” cetusnya.

Saingi Vietnam

DiakuiSupriyadi, untuk kualitas warna daging memang masih dibawah Vietnam yang warna daging patinnya sangat putih dan kepadatan tebarnyadi 40-50 ekor per meter2, sedangkan di BLUPPB masih di 30 – 35 ekor per meter2 dengan ukuran benih 5 inci. “Sebetulnya tidak jauh perbedaannya,” cetusnya.

Arie menyebutkan warna daging saat ini hasil metode budidaya kolam dalam sebetulnya bisa diekspor, hanya permasalahannya teknologi industri pengolahan di Indonesia belum bisa menyamai teknologi pengolahan fillet Vietnam. “Di Vietnam lebih banyak tenaga mesin dibandingkan manusia, mulai dari pengolahan sampai akhir dan kita juga sedang mempelajari bagaimana warna fillet patinnya putih sekali,” ungkapnya.

Sementara untuk pasarnya diutarakan Wisnu, sementara ini BLUPPB Karawang telah menyuplai ikan patin hasil budidaya kolam dalam kepada 3 unit pengolahan ikan yaitu, PT Adib Global Food and Supplies diJakarta, PT Kencana Mitra Mandiri di Karawang, dan PT Inti Mas di Muara Baru Jakarta. “Rincian pengolahan ikan patin yaitu 60% untuk produksi fillet, 30% untuk produksi utuh beku,dan 10% untuk kebutuhan pasar tradisional,” terangnya.

(sumber: trobos)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan