Budidaya Ikan Mas Masih Dibayangi KHV

Umumnya, pembudidaya enggan mengembangkan ikan mas karena penyakit KHV masih jadi momok. Padahal harga di pasar tengah tinggi karena pasokan minim. Dan hal ini mengakibatkan meredupnya pamor bisnis ikan mas.

Lebaran lalu, berdasarkan informasi beberapa pelaku, harga ikan mas di pasar mencapai Rp 30 ribu tiap kg-nya. Sementara di tingkat pembudidaya, antara lain di kawasan Waduk Cirata—Jawa Barat, harga ada di kisaran Rp 24 ribu per kg. Kabarnya, ini merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah budidaya ikan mas di daerah Jawa Barat.

serangan virus khv pada ikan mas

Permintaan yang terus meningkat di satu sisi, di sisi lain produksi stagnan bahkan cenderung menurun, adalah kombinasi keadaan yang menjadikan harga ikan mas terus merangkak naik. Asep Kamaludin,pembudidaya ikan mas di Cirata membenarkan, produksi ikan mas di wilayahnya terus menyusut. Salah satunya akibat kerap terjadinya kematian massal yang dipicu kejadian upwellingatau teraduknya dasar perairan yang disebabkan faktor cuaca. “Tiap tahun masih sering terjadi upwellingterutama karena faktor cuaca. Sehingga ikan banyak yang mabuk kekurangan oksigen dan mati seketika,” ungkap Asep.

Awal tahun ini, sebagaimana diberitakan, di Waduk Jatiluhur—Jawa Barat terjadi kematian massal ikan dengan jumlah terbesar sepanjang sejarah budidaya ikan mas di lokasi tersebut. Sementara Cirata, kata Asep meski terjadi kematian massal, jumlahnya lebih kecil ketimbang Jatiluhur.

Anehnya, Rahman Budianto, seorangbandar ikan mas di Cirata dengan daerah pemasaran Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi(Jadebotabek), justru mengatakan sejak 2 bulan lalu permintaan pasar sedang menurun.Kepada TROBOS Aqua ia mengaku kini hanya memasarkan 3 ton ikan mas tiap harinya, dari sebelumnya 5 ton per hari. “Kepada penjual di pasar saya menjual Rp 19.000/kg, sedang di tingkat pembudidaya saya ambil ikan dengan harga berkisar Rp 17.500 – 18.000/kg,” imbuhnya (10/10).

Pernyataan serupa didengar pula oleh Dawiyanto, rekan Asep pembudidaya ikan mas di Cirata juga. Lesunya pasar ikan mas, Dawiyanto peroleh dari salah satu bandar ikan di daerah Cirata.Tetapi ia menduga ini hanya akal-akalan para bandar saja. “Ketika saya cek ke pasar langsung,ikan mas sedang banyak diburu,” ujarnya penuh tanda tanya.

Ia pun mengaku dibuat bingung. “Apa bandar sengaja menahan ikan mas supaya pembudidaya melepas harga yang murah. Kok pengepul seakan mendorong kami pembudidaya untuk menurunkan harga?” ucapnya tak habis pikir.

Ia pun menuding ada permainan “mafia”yang merugikan pembudidaya. Ikan mas terus ditahan oleh bandar, agarharga ikan mas di pasarkonsumenterus naik. Akibatnya, dan ini yang ia takutkan, akan terjadi penumpukan di tingkat pembudidaya sehingga tak ada jalan lain kecuali pembudidaya menjual dengan harga rendah. “Padahal harga di konsumen tinggi. Mereka ingin keuntungan berlipat,” tuturnyabernada geram.

Belum lagi, pembudidaya kerap dicurangi pengepul dalam soal timbangan. Karena itu Dawiyanto biasa membawa timbangan sendiri untuk mengukur bobot ikan-ikannya.

Pamor Meredup

Faktanya pamor bisnis ikan mas secara nasional tengah meredup. Tak sebagaimana dekade lalu, ketika kerabat ikan koi ini merajai perairan tawar terutama di wilayah Jawa Barat, Tanah Parahiyangan. Catatan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi ikan mas dari tahun ke tahun terus cenderung stagnan (lihat tabel), tidak bisa mengikuti percepatan peningkatan permintaan pasar.

Hal ini terjadi selain disebabkan upwelling yang mematikan berbagai jenis ikan di waduk, turunnya produksi khusus ikan mas dikarenakan pembudidaya masih enggan membudidayakan ikan mas dan memilih komoditas lain. Alasan utamanya adalah ketakutan ancaman KHV (Koi Herpes Virus) yang pernah meluluh lantakkan ikan-ikan dari family ikan mas di hampir semua perairan Jawa Barat sekian tahun lalu.

KHV yang muncul pertama kali pada ikan mas di 2002, sampai hari ini masih jadi momok bagi ikan mas.“Sejak saat itu, budidaya ikan masmenemui banyak kendala di lapangan, sampai sekarang. Alhasil banyak pembudidaya beralih,” kisah Icep Dadan, yang juga pembudidaya ikan mas di daerah Waduk Cirata, Jawa Barat.Jumlah pembudidaya yang beralih menurut Icep mencapai 50%. Dulu ada istilah musim banjir ikan mas, yang mau panen sampai ngantri, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.

Dampaknya, harga ikan mas di tangan pembudidaya relatif stabil, tak pernah anjlok. Rata-rata paling rendah Rp 18.000/kg, dan paling tinggi Rp 21.000/kg (27/9). Tetapi, kata Icep lagi, harga bagus ini belum tentu pembudidaya untung apalagi biaya produksi juga mengekor naik.Selain jumlah pembudidaya berkurang, jumlah yang dibudidayakan setiap orang juga berkurang. Icep contohnya, produksinya berkurang hampir separuh. “Awalnya KJAikan mas saya ada 100, sekarang tinggal 48 buah.

Dulu 1 keramba(7 x 7 m)diisi benih 60 kg, saat ini isi paling banyak 30 kg/keramba,” tambahnya.Angka harga ikan mas yang agak berbeda disebutkan Asep. Menurut dia harga saat ini (8/10) di tingkat pembudiaya mencapai Rp 17.500/kg. “Untungnya sangat tipis, istilahnya cuma balik modal,” kata Asep. Tapi ia yakin, tidak lama harga akan naik.
Icep juga memprediksi harga ikan mas cenderung terus naik. Pasalnya, sampai menginjak tahun baru banyak momen yang mendukung kenaikan harga ikan mas. “Kalaupun harga turun, tidak akan ke titik normal Rp 15.000/kg. Paling rendah di posisi Rp 18.000/kg,” ungkapnya. Ia menambahkan, naiknya harga pakanmemaksa harga ikan mas juga harus naik.

HPP Naik Terus

Keuntungan pembudidaya tipis sebagaimana menurut Asep Kamaludin, karena Harga Pokok Produksi (HPP) ikan mas saat ini Rp 16 ribu—17 ribu per kg. Asep Guntara, Technical ServicePT Suri Tani Pemuka untuk wilayah Cirata, punya hitungan yang lebih rigid. Kata dia, harga pakan ikan mas dengan protein 27 % – 28 % saat ini rata-rata Rp 7.300 per kg. Dan dalam satu siklus budidaya yang 4 – 5 bulan, rata-rata FCR (konversi pakan) mencapai 2. Artinya untuk menghasilkan 1 kg ikan mas ukuran konsumsi (4 – 5 ekor per kg) dibutuhkan biaya pakan sekitar Rp 14.600. Ditambah hitungan biaya operasional lainnya sekitar Rp 2 ribu per kg, maka total HPP sekitar 16.600 per kg.

Vaksinasi KHV, Penting?

Satu-satunya cara pencegahan infeksi KHV adalah vaksinasi atau imunisasi yang dilakukan pada benih ikan mas. Namun, kendala harga yang mahal menyebabkan vaksinasi belum popular digunakan. “Belum pakai benih bervaksin karena harganya mahal. Benih bervaksin harganya dua kali lipat, untuk ukuran komersil tidak masuk,” dalih Icep. Ia menambahkan, benih bervaksin juga tidak menjamin hidup 100%. “Jadi mending tidak usah beli yang bervaksin, biar mati 50% saya hitung masih untung,” tuturnya.

Lain hal dengan Dedi. Ia mengaku telah memelihara benih bervaksin 2.600 ekor selama 4 bulan, dan saat ini sedang menunggu panen. “Dengan benih bervaksin, kematian berkurang dari semula 60% menjadi 10%,” ungkapnya.Vaksin KHV bersifat efektif jika penggunaannya benar. Ini dikatakan Taufik Kurnia, Distributor Vaksin KV3 PT Vaksindo Perkasa. Iamenjelaskan, ada 3 tahap vaksinasi KHV yaitu vaksinasi, induksi, dan pemulihan. “Bentuk vaksinasinya perendaman, dosis 10 ml vaksin untuk 30 kg ikan. Diawali dengan ikandipuasakan 1 hari di kolam air bersih untuk mengurangi pengeluaran kotoran pada saat dia divaksinasi dan diinduksi.,” terangnya.

Jika kerambaterserang KHV, dalam sehari bisa terjadi kematian ikan mas sampai 10 kg. “Itu yang terlihat, seumpama diangkat ternyata banyak bangkai ikan di dasar keramba,” terangIcep. Berdasarkan pengalamanIcep, biasanya kematian karena virus mencapai 70%. Paling bagus ia bisa panen“sisa virus”40%.

(sumber: trobos)

analisa usaha budidaya ikan air tawar

Peta Alamat Surya Mina Farm

Tinggalkan Pesan